"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Nggak apa-apa ya, yg penting tetep bisa lanjutin berkisah. Hehehe..
Gasa aja yuk, selamat membaca..!!
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BEBERAPA JAM SEBELUMNYA<<<
"Mahira" panggil seorang wanita saat Mahira baru keluar dari mobilnya.
Mahira yang langsung menyadari suara orang yang memanggilnya seketika menoleh dan mendapati Anita yang kini melangkah mendekatinya.
"Mahira, ini aku Anita. Kamu masih mengingatku kan?"
Mahira masih tertegun dengan tatapan datar, namun sesaat kemudian wanita itu tersenyum sinis, seolah mengejek Anita yang Kala itu datang dengan raut sendu.
"Bagaimana aku bisa melupakanmu, sementara kehidupan keluargamu adalah simbol kematian suami ku sendiri?" Sinis Mahira.
Anita menunduk sambil memainkan jemarinya karena menyadari kebenaran dari ucapan Mahira, di tambah tatapan dingin dari wanita itu, yang sedikit membuat Anita kehilangan kepercayaan dirinya
"Maafkan aku" lirih Anita.
"maaf?" Lagi-lagi Mahira tertawa sinis.
" Apa itu bisa mengembalikan suamiku? Bisakah kalian menukar hidup kalian untuk hidup suamiku?
Bahkan kalian tidak datang saat Pradipta di makam kan?" Mahira tertawa kecil dengan maksud mengejek.
"Bagaimana kata maaf bisa terucap dari mulut munafik mu itu setelah sekian lama Anita?
Pergilah, semua itu sudah tidak ada gunanya lagi. Bahkan kata maaf takkan bisa mengembalikan suamiku kan?" sarkas Mahira, yang kini berpaling dan hendak masuk kedalam rumah. Persetan darimana Anita menemukan keberadaan keluarganya saat ini, setelah Mahira menutup semua akses komunikasi dan informasi tentang keluarganya sepeninggal Pradipta, yang jelas Mahira ingin segera masuk ke dalam rumahnya karena tak ingin Anita melihat sisi lemahnya.
Namun Anita langsung mengejar Mahira sampai di teras rumah dan menahan lengan wanita itu, "tunggu Mahira, tolong dengarkan penjelasanku dulu. " Cegah Anita.
Mahira pun terdiam, "Sejujurnya kami ingin sekali datang ke pemakaman Pradipta, tapi Anakku mengalami trauma serius dan harus menjalani perawatan di luar negeri." Jelas Anita, namun Mahira menepis tangan Anita dari lengannya .
"Trauma? " Tanya Mahira dengan sebelah alis yang terangkat, kemudian tertawa kencang.
"Lucu sekali keluargamu itu, bahkan aku dan anak-anakku yang harus kehilangan kepala keluarga tidak sampai membutuhkan hal-hal semacam itu.
Lalu bagaimana keadaan anakmu sekarang? Apa dia gila sekarang?" mahira kembali tertawa setelah berkata sarkas.
Tiba-tiba Mahira berhenti tertawa dan menatap Anita dengan sorot mata dingin, "Lelucon mu takkan bisa membuatku memaafkan keluargamu, sekarang pergilah" usir Mahira.