"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Cerita ini hanyalah fiktif belaka, mohon bijak dalam menanggapi segala yang tertulis disini. Thanks.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BRUUGH..!!
Tubuh Gatra di letakkan kasar dia atas lantai kotor sebuah gudang dengan mata tertutup, pemuda itu merasa tubuhnya begitu lemas, nafasnya tak beraturan dan keringat dingin terus membasahi keningnya. Kejadian yang menimpanya kali ini kembali memanggil memori mengerikan di kepalanya.
Samar-samar Gatra bisa mendengar suara langkah dari tempatnya berbaring. Suara saluran Handy Talky yang tidak jelas, juga bisik-bisik lirih beberapa orang di sekitarnya.
Tubuhnya semakin menegang saat mendengar perintah komando untuk melancarkan serangan, dan suara perkelahian dan derap langkah cepat semakin terdengar jelas di telinganya.
Pemuda itu mencoba bangkit dari posisi berbaringnya menjadi meringkuk dan menutup kuat telinganya. Tanpa berani membuka penutup matanya, Gatra terus meringkuk, tubuhnya bergetar hebat dan nafasnya semakin memburu.
"Anda baik-baik saja kapten?"
"Tolong dahulukan anak dan istriku, aku baik-baik saja"
"Pasukan musuh semakin banyak, kita harus bergerak cepat"
"bagaimana dengan helikopter yang sudah kita siapkan?
"Pihak musuh sudah mengetahui rencana kita dan melakukan penyerangan di perbatasan distrik, sebagian anggota pergi untuk mengamankan, kemungkinan terlambat datang letnan.
Kita harus bergegas sebelum pasukan mereka kembali"
"Haiisshh.."
"Perkuat kewaspadaan kalian, kita bersiap untuk bertempur"
"SIAP 86..!!".
Terdengar suara benda yang dilempar ke lantai, "Anda juga harus bertarung kali ini kapten, kita selesaikan misi ini secepat mungkin"
Dan suara baku tembak semakin menambah suasana mencekam di ingatannya.
Semua rentetan kejadian yang pernah terjadi di masa lalunya seolah terulang dan terkisahkan bagai dongeng yang di bacakan langsung di telinga Gatra, bahkan kedua matanya yang tertutup rapat itu seolah bisa melihat langsung apa yang terjadi.
Semua terulang lagi, semakin nyata, dan semakin jelas.
Bagaimana wajah babak belur ayahnya, mata sembab ibunya dan juga...
Senyum lembut Pradipta yang menenangkannya saat ketakutan.
Gatra masih di liputi rasa ketakutan, ingin sekali dia membuka mata, dan menggerakkan seluruh tubuhnya untuk mencegah kematian Pradipta hari itu. Namun tubuhnya terus bergetar hebat dengan tangan yang senantiasa menutupi kedua telinganya.