HAI-HAI...
Author dataang..!! Gaskeun aja yok lanjot .!!
Happy reading..!
***
Tak ingin membuat Kayla bersedih karena tangisannya, buru-buru Gatra menghapus air mata dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Key, akhirnya lo bangun juga"
Mata yang sayu itu sesekali mengerjap lemah, bibirnya pun bergerak-gerak ingin bicara, meski suaranya sangat lirih dan hampir tak dapat Gatra dengar.
"Apa Key? Lo ngomong apa?" Yang di respon dengan gerakan bibir tanpa suara.
Pemuda itupun mendekatkan telinganya di depan bibir Kayla, barulah pemuda itu memahami apa yang ingin Kayla katakan.
"Lo haus?" Tanya Gatra memastikan, yang di respon dengan kedipan lemah dari matanya.
Dengan sigap pemuda itu mengambilkan segelas air untuk Kayla, namun saat hendak membantu Kayla untuk minum dengan sedotan, suara tegas Kai menghentikannya.
"Stop, jangan langsung kasih dia minum" Sambar pemuda itu, yang kini mengambil gelas di tangan Gatra, lalu menarik dua helai tissu dan menyiramnya sedikit dengan air dari gelas di tangannya.
"Dia baru saja melepas ventilator dan harus menyesuaikan diri untuk mengkonsumsi apapun secara mandiri, kalau langsung di beri cairan atau makanan dia akan muntah" terang Kai, sambil membasahi bibir Kayla dengan tissu di tangannya.
Gatra menggigit bibirnya karena hampir salah bertindak, "maaf kak" lirih pemuda itu.
Kai hanya meliriknya sekilas, lalu mendengus pelan.
"Untung gue dateng tepat waktu, kalo terlambat dikit aja Kayla pasti udah muntah hebat, hal itu bisa membuat otot perutnya tegang dan beresiko robek jahitan " gerutu Kai, yang omelannya membuat Kayla merasa kesal, meski tidak bisa berbuat apa-apa.
"kamu lihat sendiri kan? di dunia ini cuma kakak yang benar-benar peduli pada mu" lanjut Kai, seolah sengaja membuat Gatra tersinggung.
Sebelah tangan Kayla terulur lemah kearah kepala Kai, meraih anak rambut jambang Kakaknya dan menariknya ke atas, membuat pemuda itu reflek memekik kesakitan.
"Acckhh,,," Kai mengusap rambutnya dengan wajah meringis.
Di lihatnya Kayla tersenyum kecil dengan mata mengerjap, rasanya ingin sekali Kai mencubit pipi gadis itu. Bisa-bisanya dalam keadaan setengah sadar saja Kayla masih bisa membela Gatra, benar-benar menyebalkan.
Sementara Gatra hanya bisa mengulum bibir untuk menahan tawanya.
"kamu sudah benar-benar sadar rupanya?
wah, aku benar-benar terluka melihat adik kesayanganku lebih membela orang lain di banding kakaknya sendiri" omel Kai, dengan raut wajah sewot, meski tangannya tidak berhenti membasahi bibir kering Kayla dengan tissu di tangannya.
Lagi-lagi Kayla hanya tersenyum sangat tipis untuk menanggapinya, sebab gadis itu masih berusaha memanggil kesadarannya, Kayla belum bisa benar-benar mencerna apa yang telah terjadi padanya hingga berada di ruangan itu.
Selang beberapa waktu, Kayla sudah bisa membuka matanya, meski seluruh tubuhnya masih terasa lemas dan nyeri di beberapa tempat.
"bagaimana kondisimu? mau kakak panggilkan dokter? " tanya Kai, sambil membelai rambut Kayla.
Gadis itu bergeleng lemah, "kakak kan dokter, untuk apa memanggil dokter lagi?"
"ini bukan tempatku bertugas, kakak tidak bisa se enaknya"
KAMU SEDANG MEMBACA
ELUSIF
Romance"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri. Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
