"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika merujuk pada persoalan siapa yang salah dalam situasi ini?
Jawabannya adalah, tidak ada yang salah.
Sebagai Kepala keluarga yang kebetulan juga merupakan seorang perwira tinggi militer, tentu bukan tanpa alasan Yossi menagih janji Gatra pada dirinya, meski terucap dalam situasi terdesak.
Tentu bukan hal yang mudah juga bagi Yossi untuk melakukan tindakan yang terkesan memaksa ini, tapi Yossi tidak bisa serta merta menarik ucapannya karena harus memberi rasa adil bagi kedua putranya yang lain, yang kini harus menjalani profesi yang sejak awal bukan menjadi impian mereka demi Gatra.
Pria paruh baya itu kini terlihat melamun menghadap keluar jendela besar kamarnya, tatapan kosong dari kedua matanya benar-benar tak selaras dengan isi di pikirannya yang penuh saat ini. Bahkan ucapan Kayla saat Yossi dan Anita menyampaikan keputusannya untuk memberangkatkan Gatra mengikuti pelatihan militer terus terngiang dikepala pria itu.
" memang saya ini siapa om, sampai om dan tante harus meminta persetujuan saya atas hal ini ?.
tentu semua hal baik yang berkaitan dengan Gatra akan selalu saya dukung, meskipun harus mengorbankan perasaan saya sendiri.
Silahkan jika memang itu sudah menjadi keputusan om dan tante, Saya tinggal menyesuaikan diri dengan perjalanan saya sendiri.
lagipula saya sudah terbiasa kecewa dan mengalah akan keadaan sejak kepergian papa saya"
Yossi menghela nafas berat sambil mendongakkan wajahnya dengan gusar setelah kembali teringat wajah sedih bercampur pasrah Kayla setelah mengucapkannya.
"Apa kau akan memaafkan ku jika putri mu menderita karena keputusanku ini dip?.
Atau kau justru akan menertawakan situasi ku sekarang?
Hufffthhh,, Sulit sekali menjadi ayah yang adil dip, sayang sekali kita tidak bisa mengeluhkan hal seperti ini bersama-sama lagi."Gumam Yossi, seolah sedang mengobrol dengan mendiang sahabatnya.
Anita yang datang dengan secangkir kopi ditangannya mendekat, dan mengusap lembut bahu Yossi. pria itupun menoleh dan mendapati istrinya tengah tersenyum lembut padanya.
"Sejujurnya Bunda kurang setuju dengan keputusan Ayah, bagaimanapun saat ini bukan kesana lagi tujuan hidup Gatra.
Ayah juga bisa lihat sendiri kan, bagaimana menderitanya anak kita saat Kayla hampir celaka kemarin? Ayah juga pasti bisa merasakan bagaimana bahagianya anak itu saat akhirnya Kayla menerima perasaannya?