Hai guys, author muncul.
Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan bathin semuanya. ,🤗
Gimana Habis lebaran? Dompet masib aman..?
Kalo udah krisis, toss dulu kita samaan🤣
Dah ah, malah curhat. Gass lanjut baca yookk...!!!.
***
"Tidak bisakah Ayah pertimbangkan lagi keputusan Ayah? Bagaimana mungkin Ayah memintanya berangkat saat semua belum benar-benar terkendali?"
"Laki-laki harus menepati janji nya Bunda, tidak ada negosiasi lagi, dia harus segera berangkat"
" Tapi Ayah juga tau kalau sekarang yang kita perjuangkan kebahagiaannya bukan hanya anak-anak kita sendiri kan?"
Ucapan Anita seketika membuat Yossi terdiam, sejak kejadian na'as yang menimpa Kayla beberapa waktu sebelumnya, keduanya selalu memperdebatkan hal yang sama.
Yossi merasa Gatra perlu menepati apa yang telah dia ucapkan untuk menuruti apapun yang yossi inginkan, termasuk menjadi anggota militer seperti yang selama ini Yossi harapkan.
Namun ucapan Anita juga tidak salah, sebab kali ini ada anak-anak Pradipta yang kini juga menjadi fokusnya. Pria itu bergeming, saat kembali teringat obrolan singkatnya dengan Kayla, yang dengan terbuka mengungkapkan ketidak sediaannya berdampingan dengan pria bersenjata, sebab trauma kehilangan yang pernah dia alami di masa lalu.
"Ayah sudah menepati janji untuk menyelamatkan Kayla dan membuat keluarga Mahira bertindak tegas atas apa yang selama ini terjadi.
Biar Ayah yang bicara dengan Kayla, bagaimana pun, laki-laki harus bisa menepati janji" tegas Yossi, meski hatinya sendiri juga tidak yakin dengan keputusannya.
"Meskipun Gatra tidak memohon, bukankah sudah seharusnya kita menyelamatkan Kayla?
Ingat Ayah, kita bisa menikmati kehidupan kita sekarang ini juga karena campur tangan Pradipta"
Yossi menyugar rambutnya dengan frustasi, lalu bicara dengan nada suara sedikit meninggi.
"Lantas apa yang harus Ayah lakukan?
Ayah sudah mengorbankan cita-cita kedua anak kita yang lain, bahkan rela mendapat predikat Ayah ambisius dan otoriter demi bisa mengembalikan semangat hidup Gatra yang runtuh karena Peristiwa itu.
Bunda juga masih ingat dengan jelas kan, bagaimana dulu Gatra hidup bagaikan robot yang di beri nyawa?
Apa Bunda tau bagaimana Ayah selalu merasa bersalah pada Guntar dan Gema yang harus menanggalkan keinginan mereka sendiri demi bisa mengembalikan semangat juang Gatra terhadap impiannya sendiri?"
Kali ini Anita yang tercekat atas ucapan Yossi, sebab selain terkejut, ucapan Yossi adalah sebuah kebenaran. Sebab sejak awal hanya Gatra yang bercita-cita menjadi perwira, sementara Guntar sebenarnya lebih tertarik pada teknologi dan Gema ingin menjadi dokter.
Keduanya merelakan mimpi mereka sendiri demi bisa membangkitkan semangat hidup adiknya yang kala itu runtuh karena trauma dan rasa bersalah yang menghantui. Meski pada akhirnya baik Guntar maupun Gema perlahan mampu menerima dan mencintai pekerjaannya seiring berjalanya waktu.
"Ayah sudah memutuskan, Gatra akan berangkat secepatnya." Pungkas Yossi, dan Anita hanya bisa diam tanpa sanggahan apapun.
Anita tau, membantah pun tak akan mampu merubah keputusan suaminya, sehingga Anita hanya bisa menerima dengan perasaan khawatir.
KAMU SEDANG MEMBACA
ELUSIF
Romance"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri. Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
