"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga hari berlalu, Kayla belum juga menunjukkan tanda-tanda dia akan bangun. puluhan kali dokter mengecek keadaan Kayla, puluhan kali juga dokter keluar dengan helaan nafas gusar.
Tak terkecuali Kai yang sepanjang masa bebas tugasnya selalu berada di Rumah sakit untuk menjaga Kayla, sebagai dokter Kai cukup memahami bahwa kondisi Kayla tidak biasa. Sebab sebagian pasien pasca operasi akan bangun setelah efek anastesi hilang jika operasi di nyatakan berhasil.
Kai yang saat itu tengah membaca buku di kamar rawat Kayla menoleh ke arah pintu ketika seorang pemuda masuk dan menyapa dirinya dengan sungkan.
"kk-kkak.."sapa pemuda itu, menunduk sekilas.
Kai menutup bukunya, meletakkan asal di atas sofa dan menatap datar ke arah pemuda itu dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"lo lagi.." jawab pemuda itu jutek.
"gg-ggue mau jenguk Kayla kak, barangkali kakak capek, mau istirahat dulu dirumah, biar gue yang disini gantiin jagain Kayla"
Kai masih menatapnya datar, lalu mendengus sambil memalingkan wajahnya..
"pulanglah !. gue bisa jagain adek gue sendiri" usir Kai, tidak peduli.
"tt-ttapi kak" sergah pemuda itu, yang ternyata adalah Gatra.
Kai menegak kan punggungnya, kali ini tatapan nya sedikit berubah tegas,
"Meski pun di kesatuan Bokap lo atasan gue, tapi di sini gue Boss nya.
Gue yang nentuin adek gue boleh atau enggaknya berhubungan sama seseorang. Karena sekarang gue walinya.
Dan lo harus paham, kalau gue nggak akan ngebiarin adek gue hidup dengan membawa luka trauma lagi.
Lo juga harus sadar, kalau sekeras apapun lo berusaha, lo nggak akan bisa merubah kenyataan bahwa kehidupan yang lo jalani sekarang adalah simbol kesedihan keluarga gue." tegas Kai.
Tidak ingin menyerah, Gatra berlutut didepan Kai. Dengan kepala tertunduk pemuda itu memohon dengan segenap tekad dan ketulusannya.
"kak tolong, jangan begini.
Gue tau, gue nggak akan sanggup menghapus kenangan mengerikan itu. Gue juga nggak akan bisa memutar waktu untuk mengubah takdir.
Andai bisa, gue juga nggak mau siapapun menjadi korban saat operasi penyelamatan itu.
Andai mungkin, gue mau kok menukar hidup gue dengan kehidupan om Adip.
Tapi semua udah terjadi kak, dan gue nggak bisa merubah apapun.