"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam yang semakin larut dalam pekat warnanya masih menjadi waktu bernaung bagi dua sejoli yang kini terlihat duduk bersisian dengan kaki terjulur dan punggung bersandar di pagar pembatas jembatan.
Dalam keheningan yang mengunci mulut keduanya, Gatra masih enggan membicarakan penyebabnya bersedih, sementara Kayla mencoba memberi waktu pada Gatra untuk menata pikirannya.
Sesekali gadis itu mengecek jam di ponselnya, karena khawatir Mahira akan bangun dan mencarinya.
Setelah beberapa saat, ketika hatinya merasa cukup tenang dengan perasaan yang tak lagi campur aduk, Gatra mencoba memecah keheningan yang pasti membuat Kayla sedari tadi kebingungan dengan sikapnya.
Pemuda itu meraih sebelah tangan Kayla untuk dia genggam, meski wajah itu belum berani menatap gadis itu.
"Lo mau janji satu hal nggak Key sama gue?" Lirih Gatra.
"Janji? Janji apa?"
"Entah kenyataan apa yang mungkin akan lo ketahui di masa depan, lo nggak akan benci ataupun jauhin gue kan Key? Lo nggak akan ninggalin gue kan Key?" Sambung Gatra, yang kini menoleh dengan raut wajah frustasi.
"Mm-mmaksud lo tra?" Tanya Kayla, semakin kebingungan.
Memandangi tangannya yang bertaut dengan tangan Kayla, sambil membelai lembut punggung tangan gadis itu.
"Gue sayang sama lo key, enggak, bahkan lebih dari itu.
Gg-ggue, gue bahkan nggak bisa menjelaskan perasaan seperti apa yang gue rasain, perasaan sayang yang bahkan lebih besar dari rasa sayang pada diri gue sendiri Key.
Ngebayangin lo benci sama gue dan pergi menjauh aja udah bikin dada gue sakit Key, gue nggak akan sanggup" ucap Gatra, menggelengkan kepalanya.
Tangan Kayla terulur menghapus air mata Gatra yang hampir menetes, gadis itu benar-benar sangat bingung dengan sikap Gatra.
Ada apa dengannya?
Kenyataan apa yang Gatra maksud?
Kenapa pemuda itu begitu takut Kayla akan membencinya?
Gadis itu bahkan tak akan mampu melakukannya jika dimasa depan Gatra akan mengecewakannya, lantas hal apa yang membuat Gatra sekhawatir itu?
Tidak ingin membuat Gatra semakin larut dalam kesedihan, Kayla memilih untuk memendam rasa ingin taunya yang sangat besar, mungkin dia akan punya kesempatan di lain waktu untuk kenanyakan alasannya.
Gadis itu tersenyum lembut, lalu mengangguk pelan.
"Gue nggak akan pernah benci sama lo tra, bahkan jika kelak lo lelah dan memilih berhenti nungguin gue.