"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
Apa kabar semuanya?? Maaf ya author jarang muncul, agak hectic soal nya in Rl 😬
Lanjutin baca yuk..!!
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bagaimana keadaannya kak?" tanya Kayla dengan nada khawatir.
Membuat dokter yang sebelumnya tampak sibuk menulis hasil analisis di tangannya mendengus sambil melirik sinis.
"setidaknya sesekali khawatirkan dirimu sendiri seperti yang kamu lakukan sekarang" jawab dokter itu dengan nada sewot.
"Ck, ayolah kak Radit. Kenapa kakak tiba-tiba jadi menyebalkan begini?"
Sekali lagi Radit mendengus, lalu bersedekap dada. Menatap lurus ke arah Kayla dengan pandangan penuh tanya sekaligus menyelidik.
"Apa dia pacarmu?" Tanya Radit.
"Bb-bbu, ii-iiy.."Kayla tampak kebingungan, dan berakhir menggigit bibir bawahnya
"entah bukan atau memang iya, lebih baik segera akhiri. Kamu hanya akan menambah masalah baru karena berhubungan dengan orang yang memiliki masalah yang sama denganmu.
Atau setidaknya, kalian harus sama-sama sembuh dulu untuk bisa bersama"
Ucapan Radit seketika membuat bibir Kayla terkatup rapat karena tak mampu menjawab. Berat sekali untuk mengakui bahwa ucapan Radit adalah sebuah kebenaran yang selama ini dia takutkan.
Berbagai alasan kenapa sampai detik ini Kayla belum bisa menjawab pernyataan cinta dari Gatra selain karena masalah mental ibunya, juga karena trauma yang dia miliki sendiri.
Kayla merasa hanya akan menjadi beban bagi Gatra jika harus menerima segala hal dari dirinya yang penuh luka dan kekurangan itu.
Kehampaan sesaat itu dibuyarkan oleh sentuhan tangan Radit pada kedua bahunya yang mengguncang pelan tubuh gadis itu.
"Ini akan rumit Key, dari penjelasan kamu tadi.
Kayaknya temen kamu ini mengalami trauma akut, yang membuatnya mengalami serangan panik saat mendengar atau melihat sesuatu yang memicu traumanya kambuh" lirih pemuda itu.
"Mm-mmaksud kak Radit? Dia PTSD?"
"bisa di bilang seperti itu, kasus umum pada pasien trauma akut biasanya di sebabkan karena pernah mengalami peristiwa menyedihkan, kecelakaan, bencana alam, atau bahkan kehilangan yang menyakitkan"
Kayla membeku, dengan jemari yang meremas kedua sisi celananya.