regret

134 11 6
                                        


Tidak ada yang tau, bahwa malam setelah kejadian mengerikan di apartemen milik Kai, Mahira sempat kembali kerumahnya. Wanita itu berjalan menaiki tangga dengan langkah gontai, dan berhenti di depan pintu kamar Kayla.

Dengan ragu, Mahira membuka pintu dan mendapati betapa kacau kamar itu karena ulahnya sendiri. Kakinya melangkah masuk, kemudian duduk di tepi ranjang milik Kayla dengan perasaan campur aduk.

Jika selama ini dia bisa berbuat kasar dan melupakannya esok hari seolah tidak terjadi apa-apa, entah mengapa ada perasaan yang mengganggunya kali ini.

Mahira memindai setiap benda yang dia lempar acak dikamar itu, dan diantara banyaknya benda yang berserakan di atas lantai, matanya menangkap sebuah amplop putih panjang yang tergeletak dengan setengah bagian berada dibawah lemari. Wanita itupun bangkit dan mengambilnya, lalu membukanya dengan alis berkerut.

Tubuhnya seketika lemas dan lunglai setelah membaca isi didalam amplop itu, yang ternyata adalah sebuah surat lama, benda itu seketika menariknya kembali ke masa lalunya yang indah dan juga menyakitkan.

Setiap butir kata yang tertulis pada kertas di tangannya bagai belati yang menggores perasaannya. Kalimat cinta yang seharusnya membuatnya melambung, kali ini justru membuat Mahira merasakan nyeri yang bukan main sakit pada relung hatinya.

Bagaimana surat cinta semanis ini bisa menjadi sebuah surat wasiat yang bahkan selama bertahun-tahun begitu enggan dia baca?

Surat yang sejak di antar oleh rekan sejawat suaminya, tidak pernah sekalipun mampu dia baca sama sekali.

Mahira mengusap pipinya yang sudah basah, setelah membaca kalimat terakhir yang tertulis disurat itu, kemudian merebahkan diri di atas kasur Kayla. Matanya menerawang menatap pernik bintang yang menempel di langit-langit kamar itu, dan perlahan membawa kesadarannya hilang saat kantuk karena obat penenang yang dia konsumsi mulai bekerja.

.

.

.

Mahira membuka perlahan matanya yang semula terlelap, namun ada yang berbeda dari tempat yang semula dia singgahi sebelumnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mahira membuka perlahan matanya yang semula terlelap, namun ada yang berbeda dari tempat yang semula dia singgahi sebelumnya.

Terduduk dengan mata memindai ruangan baru yang tak asing baginya.

Ranjang king size yang empuk, kertas dinding berwarna pastel, juga aroma kayu manis dari pengharum ruangan kamar itu. Rasanya begitu familier.

Mahira turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.

Kembali dia menemukan perasaan familier dari rumah asing yang kini dia telusuri.

Langkahnya berhenti saat melihat punggung tegap seorang pria berseragam loreng tengah menunduk membenarkan tali sepatunya, seketika Mahira tersentak dengan mata membelalak saat pria itu menengok kebelakang dan tersenyum lembut padanya

ELUSIFTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang