Our Dark sides

82 14 6
                                        


Aloha, author muncul setelah galau, harus up arau hiatus lagi karena ada datelines kerjaan.

Tapi akhirnya mutusin untuk tetep up cerita meskipun telat. Hehehehee..

Gass yok kita lanjoot, happy reading..!!

***

Memikirkan tentang keterkaitan Avans dengan kasus tabrak lari yang sempat menimpa dirinya membuat Kayla cukup terguncang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Memikirkan tentang keterkaitan Avans dengan kasus tabrak lari yang sempat menimpa dirinya membuat Kayla cukup terguncang. Namun mengetahui fakta bahwa Avans melakukannya demi ratusan karyawan di perusahaannya sedikit membuat hati Kayla melunak meski tak mampu melupakan kesalahan pemuda itu begitu saja. 

Dan untuk memaafkan pemuda itu? Tentu itu persoalan yang berbeda. 

Terlebih fakta bahwa Avans menyembunyikan kenyataan itu dan dengan sangat percaya diri tetap mencoba mendekatinya membuat Kayla semakin kesal. Tapi apa yang bisa Kayla lakukan dalam situasi ini?

Tidak ada jaminan bahwa jika dia mencabut laporan kasusnya akan membuat ayah Galih dibebaskan, sementara pengadilan sudah ketok palu. Dan lagi, Kayla masih memikirkan kehidupan Galih dan ratusan Karyawan di perusahaan Avans 

Gadis yang sejak kembali kerumah hanya merebahkan diri di atas kasur sambil melamun menatap langit-langit kamarnya itu kini menghela nafas kasar, lalu bangkit untuk menemui ibunya yang baru kembali dari dinas di meja makan 

Berhenti di puncak anak tangga sembari mengamati situasi dan emosi ibunya sebelum memutuskan untuk turun, Kayla mencoba mengumpulkan seluruh sisa energi yang dia punya untuk bersiap menghadapi apapun yang terjadi saat bersama ibunya. Namun setelah melihat Mahira yang terlihat tenang menata hidangan membuat Kayla akhirnya melangkahkan kakinya menuruni tangga.

" Hai ma.." sapa Gadis itu.

"Hai sayang, udah ngerjain PR nya?" Jawab Mahira, dengan senyum lembut.

Saat itulah Kayla yang akan menarik kursi untuk duduk di meja makan melambatkan geraknya sambil menelan ludah kasar saat menyadari gejala halusinasi ibunya sepertinya kambuh. 

Gadis itu tetap mencoba terlihat tenang meski perasaannya sudah campur aduk dan cemas, karena bagaimanapun entah seberapa lama Kayla memahami dan memaklumi kondisi ibunya, setiap situasi ini terjadi, kayla masih sangat takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.

Kayla tersenyum paksa, lalu menjawab lirih.

"Uu-uudah kok ma"

Mahira tersenyum lembut, lalu mengusap kepala Kayla. "Good job, yaudah makan dulu habis itu istirahat ya"

Kayla mengangguk sungkan, lalu mulai menyantap makanan di hadapannya dengan perasaan was-was. Gadis itu menggenggam sendok di tangannya dengan kuat untuk memberanikan diri melakukan hal yang selama ini tidak pernah dia coba. Sebuah saran dari dokter Radit untuk mencegah hal buruk terjadi padanya.

Saat mahira hendak bergabung di meja makan setelah merapikan dapur, Kayla sengaja meminta tolong pada ibunya untuk di buatkan segelas susu hangat. Saat itulah Kayla memasukkan obat tidur di dalam minuman milik Mahira.

"Maafin Key ya ma, Key tau dengan meluapkan emosi akan membuat perasaan dan beban mental mama terasa lebih ringan. Tapi kali ini aja ma, nggak apa-apa kan ma kalo Key istirahat sebentar? Key capek ma" batin Kayla, saat memandangi punggung ibunya yang masih sibuk di dapur dengan raut sendu.

Selama ini Kayla selalu berusaha kuat untuk menahan segala jenis siksaan dan tekanan yang di dilakukan Mahira terhadap dirinya, semata untuk membuat ibunya merasakan kelegaan karena bisa mengeluarkan beban mental yang dalam dadanya juga tekanan yang dia derita selama ini. Kayla tidak pernah menghindar, berlari, atau bahkan berteriak saat itu terjadi. Karena gadis itu merasa, Mahira adalah satu-satunya kekuatan sekaligus kelemahan hidupnya.

Kayla bahagia masih memiliki ibu, meski entah sudah berapa kali kasih sayang dan cinta seorang ibu hilang dari sosok yang sama. 

Kayla tidak pernah menyesali keputusannya untuk bertahan hanya saja, kali ini dia merasakan kekacauan dari dalam dirinya, yang bahkan tak dapat dia pahami penyebabnya.

Setelah memastikan Mahira sudah terlelap di kamarnya, Kayla memutuskan untuk keluar rumah dan berjalan kaki menuju jembatan tempatnya biasa merenung. Sepanjang langkahnya menyusuri trotoar, gadis itu sesekali memandangi layar ponselnya dengan ekspresi menimbang-nimbang.

Disaat-saat pikirannya sedang tidak nyaman, seorang teman mungkin bisa sedikit membantunya mengurangi rasa sepi dan kegundahan hatinya. Tapi, pada akhirnya Kayla memilih untuk mengelak dan memutuskan untuk menikmati kesedihannya seorang diri, seperti yang sudah-sudah.

"Gatra pasti lagi sibuk sama proyeknya, makanya nggak hubungin gue setelah dari pemakaman. 

Eh, lagian gue siapa? Dia kan nggak harus selalu ngabarin gue juga" gerutu gadis itu, memasukan ponselnya ke dalam saku, sambil terus melangkah dengan kaki yang sesekali menendang kerikil.

"Tapi sepi juga ya kalo dia nggak berisik?" Galau Kayla, yang kini sudah menaiki tangga menuju jembatan. Namun langkahnya seketika melambat saat melihat seorang pemuda yang sebelumnya dia pikirkan tengah berdiri sambil memegangi besi pembatas  jembatan dan memandangi area bawah jembatan dengan sorot mata sendu.

"Gatra..??" Panggil Kayla, dengan wajah bertanya-tanya.

Saat pemuda itu menoleh,  Kayla dapat melihat penampilannya yang kacau, mata merah dan bengkak, juga rasa bersalah yang tercetak jelas di raut wajahnya, entah karena apa Gatra terlihat sekacau itu, Kayla bahkan tak mampu menerkanya 

Begitu melihat siapa yang datang, pemuda itu langsung berjalan cepat menghampiri Kayla dan memeluk erat tubuh mungil gadis itu, lalu menangis dengan suara isakan yang tertahan.

"Ll-llo kenapa tra?"

Tidak menjawab, Gatra semakin menenggelamkan wajahnya di atas bahu Kayla sambil menangis semakin pilu.

Bagaimana Gatra menjelaskan luka yang membuatnya menangis sesendu ini?

Sementara gadis dalam pelukkannya sekarang adalah putri dari paman kesayangannya, yang gugur saat menyelamatkan nyawa keluarganya?

Bagaimana Gatra bisa menjelaskan lukanya, saat mungkin saja gadis dalam pelukannya mempunyai luka yang lebih perih dari miliknya.

Kenapa harus Kayla yang dia cintai?

Kenapa harus Gatra yang ikut di culik bersama kedua orang tuanya saat itu?

Dan kenapa? Pradipta harus gugur?

Gatra semakin tenggelam dalam rasa bersalah, hingga sejak menyadari bahwa Kayla adalah putri dari Pradipta. Gatra tak hentinya merasakan tekanan dalam dadanya, hingga hanya tangis yang dapat mewakili perasaannya yang tak dapat dia utarakan.

Pengobatannya berjalan lancar, dan penyematan memori baru untuk menumbuhkan semangatnya untuk sembuh juga telah berhasil dilakukan.

Tapi kini, Gatra justru merasa tidak yakin Kayla akan sudi membuka hati untuk dirinya.

Saat kelak mengetahui kenyataan, bahwa kebahagiaan keluarga Gatra yang saat ini Kayla lihat, adalah buah dari pengorbanan Pradipta, yang meninggalkan penderitaan untuk keluarganya sendiri.


***

Late but sure ya. Hehehee...

Sibuk kali saya akhir-akhir ini, maafkeun ya teman-teman.

Segitu dulu, next kita lanjut lagi ya 

***

Makasih support votes dan komennya ya.

Jangan lupa follow.

Sehat selalu semuanya.

_author_


ELUSIFTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang