"Aku sudah membuktikan kalau aku mampu bertahan sejauh ini, dan tidak terbawa ego untuk pulang sendiri.
Tapi jika Tuhan menahanku agar bertahan lebih lama, hanya untuk menjemputku dengan cara seperti ini. Maka ijinkan aku mengatakan satu hal untuk y...
bacaannya aja ya yang suram, smoga hari kalian nggak kelabu.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jika ada hal yang bisa membuat Kayla bahagia saat ini, itu hanyalah kebersamaannya dengan Gatra. Namun satu-satunya kebahagiaan yang dia punya justru menjadi luka yang menanti untuk menggoresnya dengan perpisahan.
Kayla duduk melamun menghadap keluar jendela kamar rawatnya, matanya nanar menatap sosok Gatra yang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di area samping gedung tempat Kayla di rawat. Pemuda itu berhenti sejenak di samping mobilnya untuk melihat ke arah jendela kamar rawat Kayla, lalu melambai heboh saat melihat Kayla sedang melihat keluar jendela.
Gadis itu membalas lambaian tangan Gatra sambil geleng-geleng kepala karena kelakuan random pacarnya itu, bahkan Gatra tidak malu sama sekali untuk melakukan ciuman terbang brutal nan bertubi tanpa perduli dirinya kini menjadi pusat perhatian. Terpaksa Kayla menutup tirai untuk menghentikan kegilaan Gatra yang terlampau bucin itu.
Tau kalau Kayla salah tingkah, Gatra tertawa kecil sebelum akhirnya masuk kedalam mobil dan melajukannya meninggalkan area Rumah sakit. Saat itulah Kayla membuka kembali tirai jendela untuk melihat mobil Gatra yang perlahan menghilang dari pandangannya.
Gadis itu menghela nafas kasar, lalu menyeret tiang infusnya untuk kembali menuju brankar, namun Kayla di kejutkan dengan kehadiran sang kakak yang masih berseragam lengkap sudah duduk di atas sofa sambil bersedekap dada, menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
"kakak ngagetin aja ih" omel Kayla, Kai hanya geleng-geleng kepala karena tak habis pikir dengan setiap keputusan dan jalan hidup adiknya yang kelewat rumit.
"sekarang apa lagi yang akan kamu korbankan setelah semua penderitaan kamu bersama mama berakhir? apa anak itu nggak ada usahanya buat tetap disini bersamamu?" todong Kai, Kayla hanya menghela nafas panjang dan mendudukkan diri di atas brankar.
"udahlah kak, dia nggak tau apa-apa, dia bahkan belum tau tanggal keberangkatannya."
"Apa..? "Pekik Kai.
"gimana bisa? dia bahkan harus datang sendiri untuk seleksi dan pemberkasan"
"kakak nggak lupa dia anak siapa kan? "jawab Kayla, yang di tanggapi Kai dengan geleng-geleng kepala.
"even dia anak jenderal, nggak seharusnya dia masuk jalur belakang, dia akan malu menjalani masa penugasannya nanti.
Aku masih nggak percaya om Yossi orang sepeti itu" ujar Kai, Kayla tidak menjawab, dan hanya tersenyum miris karena memikirkan nasib hubungannya dengan Gatra.
Menyadari kegundahan hati adiknya, Kai mendengus kasar kemudian bangkit untuk menghampiri Kayla. Pemuda itu mengusap lembut kepala adiknya dengan tatapan sendu, lalu memaksakan bibirnya untuk tersenyum saat Kayla mendongak menatap wajahnya.