Bab 6

10.9K 966 8
                                        

"Apa anda bisa menjamin cucu saya akan baik baik saja di sana?" tanya kakek Wein.

"Tentu, saya akan sebisa mungkin untuk menjamin keamanan cucu anda." jawab dekan Oswal tegas.

"Baik, saya akan menyetujuinya jika Ran sendiri ingin belajar di akademi. apa kamu ingin belajar di akademi, Ran?"

Pandangan kakek Wein dan dekan Oswal beralih menatap Ran. Ran berfikir sejenak lalu menjawab dengan tegas, "Saya... ingin belajar di akademi Nethearl."

Kakek Wein menghela nafas sebentar dan berdiri dari duduknya, "Kalau begitu, mari pulang dan persiapkan barang barang yang diperlukan."

Ran pun mengikuti sang kakek tapi langkah mereka terhenti karena ucapan dekan Oswal.

"Tidak perlu membawa banyak barang, cukup pakaian untuk sehari-hari saja, untuk hal-hal yang lain akan disediakan oleh akademi."

Kakek Wein melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tadi.

Ketika Ran ingin mengejar langkah sang kakek, dekan Oswal kembali berbicara, "Ran, tolong sampaikan surat ini kepada kakekmu."

Ran menerima surat tersebut dengan ekspresi bingung.

'Untuk apa surat ini? bukankah tadi sudah dijelaskan semua?'

Sesaat Ran akan menanyakan surat tersebut dekan Oswal sudah terlebih dahulu mengatakan bahwa sang kakek sudah menjauh dari tempat pertemuan mereka.

Ran pun buru-buru berlari untuk mengejar sang kakek.



.
.
.




Di tengah kota, tepatnya pasar kota, Ran dan kakek Wein sedang berjalan melewati toko toko yang berjajar rapih di pinggir jalan.

"Kakek, apa yang sebenarnya ingin kakek beli?!" tanya Ran sedikit kesal.

Pasalnya mereka sudah satu jam berjalan di pasar kota tetapi tidak satu pun toko yang berjajar di pinggir pasar kota mereka kunjungi.

"Ada, kau akan tahu nanti."

Ran memutar kedua bola matanya, merasa jengah terhadap sang kakek. Lagi dan lagi jawabannya sama keluar dari mulut sang kakek. Ini sudah ke 5× nya Ran menanyakan hal tersebut dan mendapatkan jawaban yang sama juga.

Ran berjalan dengan sedikit hentakan kaki, menyalurkan kekesalannya kepada jalanan yang tidak bersalah.

Akhirnya sang kakek pun berhenti di sebuah toko antik.

Ran yang melihat toko tersebut merasa aneh, "Kakek, disini toko nya?" tanya Ran penasaran.

"Ya."

Hanya jawaban singkat yang Ran dapatkan dari sang kakek.

Sang kakek pun memasuki toko antik tersebut.

Klingg....

Suara lonceng terdengar, menandakan bahwa ada pelanggan yang masuk sang penjaga pun langsung menuju ke arah pintu masuk.

"Ada yang bisa di bantu?" tanya penjaga tersebut.

Ran melihat sang penjaga tersebut dengan tatapan penasaran.

"Kasan, aku datang untuk mengambil barang ku," ucap kakek Wein.

"Oh, ternyata itu kau Wein, lama tidak berjumpa hoho," jawab sang penjaga toko bernama Kasan.

"Tunggu sebentar, akan ku ambilkan di dalam, silahkan duduk terlebih dahulu."

Setelah mengucapkan kata tersebut Kasan pun berjalan menjauh.

Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot CardsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang