Tersisa Ruby, Octa dan dekan Oswal di tempat. Ruby terlihat sangat sedih, dengan suara yang bergetar dia menoleh ke arah dekan Oswal dengan sendu. "Kakek dekan, apa mama dan kak Vance akan baik-baik saja?"
Dekan Oswal tersenyum tipis, meletakkan telapak tangan kanannya di atas kepala Ruby, dia mengusapnya dengan pelan. "Tentu saja. Mama mu itu orang yang ceroboh dan sembrono, namun dia bijak dalam mengatasi permasalahan dengan caranya sendiri."
Ruby mengangguk pelan, lalu mengusap air matanya. Octa mengulurkan tangannya untuk membantu Ruby, mengusap pipi Ruby dengan lembut dan menenangkannya dengan perkataan yang hangat. "Mereka pasti akan berbaikan, karena kita adalah keluarga."
Ruby menatap ke arah Vance, senyum kecil mulai terbentuk di wajahnya. "Umm. Kita adalah keluarga!"
.
.
.
Di tempat Xue Yan dan Ran berada.
Kini mereka berada di balkon kamar yang Ran tempati, setelah mengantar pemuda kecil itu, Xue Yan tiba-tiba menghilang, meninggalkan Ran di tempat.
Terdiam sebentar, Ran akhirnya menarik kursi yang memang di sediakan di sana lalu mendudukkannya. Meletakkan kedua tangannya dengan menumpuk, kepalanya kembali menunduk. Helaan nafas yang terdengar berat keluar dari mulutnya.
Tak lama, Xue Yan datang kembali tepat di depan Ran yang terhalang oleh meja dengan nampan berisi dua cangkir beserta teko berisikan teh hangat.
Meletakkan salah satu cangkir di depan Ran, dia menuangkan teh hangat dengan perlahan. Lalu tersenyum tipis sembari berkata, "Minum teh ini terlebih dahulu. Mari merilekskan diri dengan secangkir teh yang hangat."
Ran mengangkat wajahnya. Menatap ke arah cangkir yang sudah berisikan teh di depannya dengan sedih. Kemudian mengangkat tangannya dan mengambil cangkir itu. Mendekatkan nya ke arah mulut, dia meneguk teh itu dengan perlahan.
Setelah dua tegukan dia mengakhirinya. Meletakkan kembali cangkir tersebut ke meja, tangannya masih berada di gagang cangkir tersebut. Dengan wajah yang kembali menunduk, suaranya yang bergetar mulai mengucapkan keresahannya.
"Apa... Aku jahat?"
"..."
Xue Yan tak menjawab apapun, membiarkan pemuda itu mengeluarkan lebih banyak keresahannya yang terpendam.
"Apa aku melukainya? Apa aku adalah orang terburuk yang pernah ada? Apa aku adalah orang paling egois di antara yang lain? Aku- Aku hanya ingin mereka berada di tempat yang nyaman. Tidak ingin membebani mereka dengan banyaknya permasalahan. Melindungi mereka dari banyaknya orang-orang jahat. Apa aku salah? Apa semua yang kulakukan salah?"
Kembali meneteskan setetes air mata, Ran menggigit bibirnya yang bergetar.
"Aku tidak tahu. Aku tidak tahu harus bagaimana... Melindungi mereka dari siapa? Aku tidak tahu... Apa- Apa aku harus menjawab dengan melindungi mereka dari para penjahat? Atau dari Miracle? Atau dari dunia? Atau bahkan dari takdir yang sudah terbentuk? Aku tidak tahu. Aku sama sekali... Sama sekali tidak tahu apa yang harus ku jawab! Hiks-!"
Isakan lolos dari bibir kecilnya. Nafasnya juga ikut memberat di sela-sela isakannya.
Xue Yan yang masih berdiri sembari menggenggam teko dengan hati-hati menaruhnya di atas meja dan berjalan mendekat ke arah Ran.
Setelah sampai di samping kursi Ran, dia merendahkan tubuhnya, berlutut di samping Ran. Kedua tangannya mengambil kedua tangan milik Ran dan membawanya ke pangkuan pria kecil itu.
Mengusapnya dengan lembut, Xue Yan menatap Ran tepat di matanya. Suaranya yang terdengar lembut melantun dengan indah di indra pendengaran Ran. "Sttt... Jangan menangis, jangan menangis..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot Cards
FantasiSeorang pria yang bertransmigrasi di dalam novel yang terakhir ia baca. Dunia dimana sihir adalah hal normal di sana. Terlahir kembali menjadi orang yang memiliki sihir unik, Kartu Tarot. Bagaimana jalan cerita pria yang bertransmigrasi di dunia ya...
