"Mama!!"
Seorang anak laki-laki berlari ke arah ku yang sedang duduk di bawah rerumputan yang lembut sembari menangis. Dia memeluk leher ku dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di dada ku.
Aku terdiam dan keheranan karena anak kecil itu secara tiba-tiba memeluknya. Tapi yang lebih mengherankan lagi tubuhnya bergerak sendiri dan membalas pelukan anak kecil tersebut, mengelus rambut hitam anak itu dengan lembut.
Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Apa tubuhnya di kendalikan? Dan siapa anak kecil yang memeluknya?
Anak kecil itu merengek dengan mata yang memerah dan hidung yang sudah mengeluarkan cairan dari dalamnya. "Hiks- mama... Kak Arole- kak Veda dan kak Raksharva menjahili Amoste!! Mereka bilang- hiks... Ma-ma t-tidak sayang A-Amoste... Huaaaa!!" Anak itu kembali memeluk leherku semakin erat dari sebelumnya.
"Pftt-" aku terkekeh kecil. Tunggu-? Kenapa aku terkekeh?
Aku menepuk-nepuk punggung anak tersebut dengan pelan, seakan-akan mencoba untuk menenangkan anak tersebut.
"Sttt... Anak ku, Amoste~ Jangan menangis sayang... Mama sayang Amoste kok, sayang kakak-kakak yang lain juga..."
Tidak! Aku tidak berkata apapun!
Aku mencoba untuk menggerakkan tangan ku, namun itu tidak bergerak sedikitpun walau aku menggunakan kekuatan dalam ku secara penuh! Aku tidak bisa melakukan apapun yang ku inginkan!
Oke. Mari berfikir dengan jernih. Awalnya aku berada di kuil bersama Xue Yan dan berhubungan- tidak! Itu terdengar ambigu untuk di ucapkan. Maksud ku... Akan berhubungan? ItuItu- Itu masih terdengar ambigu!
Baiklah- Pokoknya itulah, dan tak lama setelahnya aku tiba-tiba kehilangan kesadaran ku dan... Berakhir di sini tak bisa mengendalikan tubuh ku sendiri. Apa aku mengalami astral project atau apalah itu? Atau ketindihan seperti orang-orang katakan? Tidak-tidak. Aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Mungkin hanya kebetulan, ya kebetulan saja... Apa aku ketindihan ya?! Kalau begitu, ada seta-
"Mama!"
Ada satu anak laki-laki lagi yang berlari ke arah ku dengan cepat. Secara reflek tangan kiri ku terentang untuk menyambut anak tersebut.
"Cares jangan berlarian terlalu cepat!"
Namun anak tersebut tetap berlari dengan cepat dan menabrak tangan kiri ku yang terentang dengan cukup keras. Anak itu menenggelamkan wajahnya di leher ku dengan sesekali mengendus dan mengusap menggunakan kepalanya.
"Awhh~ Kamu menyakiti mama, Cares..." ucap ku dengan sedikit candaan di dalamnya.
Kedua anak kecil tersebut buru-buru melepaskan pelukan mereka dan menatap ke arah ku dengan wajah yang penuh kekhawatiran. Sepertinya mereka menganggapnya dengan serius.
Anak laki-laki yang bernama Cares meletakkan kedua tangan mungilnya di kedua sisi pipi ku. Raut wajahnya yang penuh kekhawatiran itu terlihat seperti akan menangis. "Ughh- Dimana yang sakit!? Umm... Maaf, mama... Hiks- Ughh..."
Dan benar saja, anak bernama Cares itu menumpahkan air matanya yang sudah terbendung itu setelahnya. Amoste juga ikut bertanya dengan geram. "Mama! Dimana? Dimana yang sakit?! Kakak Cares! Kamu menyakiti mama!"
Tangisan Cares semakin menjadi-jadi ketika adiknya menyalahkannya karena telah menyakiti mama mereka. Aku yang tidak tega melihat Cares yang menangis dan Amoste yang semakin memojokkan kakaknya ingin melerai keduanya. Namun bukannya kata-kata leraian, malah tawa kecil yang dia keluarkan.
"Haha- Pftt... Ahahaha!" tawa pecah keluar dari bibir ku dengan mudahnya. Aku yang tidak bermaksud demikian panik setengah mati.
Hei! Anak-anak itu menangis dan kamu malah menertawakannya?! Apa yang ada di otak mu saat ini?!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot Cards
FantasySeorang pria yang bertransmigrasi di dalam novel yang terakhir ia baca. Dunia dimana sihir adalah hal normal di sana. Terlahir kembali menjadi orang yang memiliki sihir unik, Kartu Tarot. Bagaimana jalan cerita pria yang bertransmigrasi di dunia ya...
