Bab 36

6K 673 19
                                        

Udara dingin yang bahkan sampai menyentuh kulit membuat orang-orang menggigil rendah. Pakaian orang-orang di sana terlihat sangat tebal dan berlapis.

"Ugh... Dingin..." keluh Vance saat baru sampai di gerbang masuk wilayah utara.

Xue Yan sedang menunjukkan kartu pengenal Akademi dan Luo Lingyi yang sedang menelisik kota yang berada di depan nya menatap ke arah anak itu.

"Kamu masih kedinginan?" tanya Lucian dengan khawatir. Gawat juga jika anak orang ku kembalikan dalam keadaan sakit.

Luo Lingyi tidak berucap apapun, namun ia membuka jubah hitam nya dan memasang nya ke tubuh anak itu.

Luo Lingyi, Lucian, Xue Yan dan penjaga gerbang terkekeh pelan karena tubuh Vance tenggelam dalam jubah hitam milik Luo Lingyi.

"Identitas diterima, silahkan masuk ke kota Icse! Di dalam kota ada beberapa toko dengan pakaian hangat mereka, kalian bisa membeli nya di sana. Terutama untuk anak itu..." ucap ramah sang penjaga gerbang.

Akhirnya Xue Yan, Lucian, Luo Lingyi dan Vance masuk ke dalam kota Icse. Mereka berjalan ke arah toko pakaian hangat, seperti yang di rekomendasi kan oleh penjaga gerbang.

Klingg~

"Selamat datang di toko pakaian Hoster! Ada yang bisa kami bantu tuan tuan sekalian?" sambutan ramah dari sang penjaga toko terdengar.

Xue Yan berjalan ke arah kasir dan bertanya dengan ramah, "Apa ada pakaian hangat untuk anak-anak?"

"Te-tentu saja tuan!" jawab sang kasir dengan sedikit gugup. 'Tampan nya~' batin sang kasir dengan wajah bersemu.

"Kalau begitu, tolong ambilkan satu... Dan mungkin tiga pakaian hangat lain nya untuk orang dewasa."

"Baik! Tunggu sebentar tuan, saya akan mengambilkan nya!"

Sang kasir masuk ke dalam ruangan dan membawa beberapa pakaian hangat yang di pesan.

"Ini tuan! Ini adalah pakaian terbaik yang toko ini punya! Apa anda suka dengan bahan nya?" tanya sang kasir.

Xue Yan melirik ke arah Lucian, Lucian yang mengetahui maksud dari tatapan Xue Yan tersenyum tipis, "Ya. Tolong bill nya. Saya akan mengambil nya..."

Sang kasir memberikan bill, dan Lucian segera membayarnya.

Luo Lingyi dan Vance hanya melihat interaksi mereka dengan diam.

"Terimakasih..." ucap Lucian ramah, sedangkan Xue Yan dengan senyum ramah nya kepada sang kasir. Mereka berjalan ke arah pintu masuk, dimana Luo Lingyi dan Vance berada.

Sang kasir kembali bersemu, dengan semangat melaimbaikan tangan nya. "Sama-sama tuan tuan sekalian! Silahkan kembali lagi jika anda semua berkenan!"






.
.
.







Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Xue Yan, Luo Lingyi dan Vance berhenti tepat di sebuah bangunan yang cukup lusuh. Mereka bernafas dengan pelan karena merasa lelah. Hembusan nafas mereka menjadi pelan dan berasap di sebabkan oleh cuaca dingin di wilayah ini.

Walau pakaian mereka berlapis-lapis dan tebal, tidak menutup mereka tetap merasa sediki kedinginan.

Mereka menatap bangunan berbentuk rumah yang hampir setengah nya membeku, bahkan hanya ada tumpukan salju di halaman rumah tersebut.

"Kau yakin ini tempatnya...?" tanya Lucian sedikit ragu.

"Aku hanya mengikuti apa yang tertulis di kertas ini," jawab Xue Yan.

Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot CardsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang