Bab 52

5.3K 519 40
                                        

Sebuah pedesaan yang sepi dan asri dengan di kelilingi oleh lahan pertanian yang subur dan hijau, tempat itu terlihat sangat nyaman untuk di tempati.

Selembar gulungan kuno yang melayang muncul secara tiba-tiba di tengah-tengah salah satu lahan pertanian yang masih belum jadi, hanya ada setumpuk lumpur di sana. Mengeluarkan tiga orang dari dalam gulungan tersebut. Ran, Luo Lingyi dan Yībàn keluar tanpa persiapan, membuat ketiganya tidak siap untuk melakukan pendaratan.

Untungnya Luo Lingyi cepat tanggap. Menangkap Ran yang berada di atasnya, dia memposisikan diri untuk mendarat dengan aman. Sedangkan Yībàn hanya pasrah dengan dirinya sendiri.

Luo Lingyi jatuh dengan posisi berdiri, setengah kakinya dilahap oleh lumpur. Ran yang berada di dalam gendongan Luo Lingyi tentu saja selamat dari kecelakaan tersebut. Dan Yībàn sepenuhnya tenggelam oleh lumpur tersebut.

Ran tidak bisa untuk tidak tertawa di saat seperti ini. Dia terkekeh kecil dengan wajah yang terlihat senang. Luo Lingyi hanya melihatnya dalam diam, namun di hatinya penuh dengan pujian yang di tunjukkan kepada pemuda kecil itu.







.
.
.








Kini ketiganya tengah berada di sebuah rumah sederhana yang tak memiliki tuan. Luo Lingyi dan Yībàn tengah berganti pakaian mereka yang kotor akibat terkena lumpur.

Ran menunggu mereka di depan perkarangan rumah tersebut sembari memandangi sekitar. Tempat ini sangat sepi dan damai, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya. Seperti memang tidak pernah ada pedesaan sebelumnya.

Luo Lingyi dan Yībàn keluar dari dalam rumah, mendekat ke tempat Ran berdiri.

"Kita akan kemana sekarang? Apa diantara kalian tahu dimana tempat Xue Yan berada?" tanya Ran setelah melihat kedua orang yang sudah berganti pakaian mereka.

Yībàn hanya menggeleng tak tahu, Luo Lingyi terdiam sejenak. Setelah mengingat dimana tempat yang menandakan keberadaan dewa suci berada, Akhirnya ketiganya melanjutkan perjalanan mereka menuju tempat dimana Xue Yan berada sembari berjalan-jalan.

"Di sini terasa sangat tenang, bukan?" tanya Luo Lingyi secara tiba-tiba, memecahkan suasana sepi di antara mereka.

Ran tersentak kaget, dia melirik sebentar lagi ke arah belakang. Sudah ada Luo Lingyi dan Yībàn di sana dengan senyum tipis keduanya.

Ran menjawab dengan senyum tipis, "Sangat tenang... Seperti tempat yang ku impikan."

"Benar. Saya juga ingin berada di tempat ini. Jika bisa, selamanya juga tidak apa," ucap Yībàn.

Luo Lingyi dengan acuh membalas perkataan Yībàn, "Kalau begitu tetaplah disini."

Yībàn dengan reflek menghadap ke arah kaisar-nya. "Anda!"

Luo Lingyi acuh tak acuh mengabaikan keberadaan Yībàn yang menunjuk ke arahnya.

Dengan sombong Yībàn menyilangkan kedua tangannya di depan dada, membuang mukanya dengan kesal. "Anda tidak akan bisa hidup tanpa saya. Saya adalah ajudan terbaik yang pernah ada!"

Luo Lingyi mengernyitkan dahinya ketika mendengar ucapan Yībàn yang terdengar menggelikan di telinganya. Apa tadi? Ajudan terbaik? Tidak bisa hidup tanpanya? Percaya diri sekali makhluk setengah katak, ular dan kadal satu ini. Bentuknya saja sudah abstrak, apalagi dengan perkataannya itu.

Ran hanya bisa terkekeh kecil dengan drama pertengkaran antara tuan dan ajudan satu ini. Memang sepertinya sudah menjadi takdir jika seseorang yang cuek memiliki seseorang disisinya yang petakilan dan terlalu percaya diri.

Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot CardsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang