Bab 19

7.4K 759 6
                                        

"Tenangkan dirimu terlebih dahulu, nak. Tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan dengan perlahan, mengerti?" ucap dekan Oswal menenangkan ku.

Aku mengikuti apa yang di ucapkan oleh dekan Oswal. Menarik nafas ku dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan. Aku merasa sedikit lebih baik setelah melakukan nya.

"Apa kau sudah lebih baik?" tanya dekan Oswal.

"Sedikit. Maafkan aku karena tidak sopan, tadi aku terlalu panik saat mendengar kakek ku jatuh sakit dan terlebih ia jatuh sakit karena diracuni."

Dekan Oswal menganggukkan kepalanya, ia memahami seberapa khawatirnya jika salah satu kerabat terdekat jatuh sakit apalagi diracuni oleh seseorang. "Aku mengerti."

"Lalu, siapa pelaku yang meracuni kakek ku?"

Dekan Oswal membuka laci meja kerjanya, dan menyerahkan kertas ke arah ku.

"Kau bisa membacanya sendiri," perintah dekan Oswal.

Aku kemudian mengambil kertas tersebut dan membacanya.

Aku meremas dengan erat kertas tersebut, menyalurkan amarah ku ke kertas tersebut.

Aku bergumam dengan pelan, "Earl Snowel, sialan."

"Aku bisa pulang sekarang bukan?" tanya ku kepada dekan Oswal.

"Aku sudah meyiapkan kereta kuda nya, tapi itu tidak gratis kau tahu, kan?"

Aku menghela nafas ku pelan dan menganggukkan kepala ku, "Ya, aku tahu."

"Bulan depan, tepatnya saat perekrutan mahasiswa baru, aku ingin kau menjadi pengawas uji latih sihir dan pedang," ucap dekan Oswal dengan seringai.

Aku menatap tajam ke arah dekan Oswal. "Kenapa aku?"

"Kau kan murid tahun pertama yang berhasil memang melawan Xue Yan di ujian latih sihir dan pedang. Lalu kau mahasiswa terbaik di tahun pertama dengan menempati posisi peringkat pertama di kelas sihir dan peringkat kedua di kelas pedang."

"Tapi aku yang terakhir di kelas spirit bukan?"

"... Tidak masalah. Bagaimana? kau mau menerimanya atau tidak?"

"... Aku. Hah, baiklah."

"Senang berbisnis dengan mu, Ran Snow."

"... Aku tidak akan mau berbisnis dengan mu lagi, dekan Oswal."

"Haha!! Kau bisa bersiap sekarang, kereta kuda nya siap berangkat malam hari ini juga."

"Baiklah, aku akan undur diri. Selamat siang, dekan."

Aku bangkit dari duduk ku dan berjalan ke arah pintu masuk ruangan.

"Selamat siang juga, nak. Hati-hati di jalan!! Jika kau kenapa-kenapa, Akademi akan kehilangan aset berharganya!!" seru dekan Oswal.

Aku menghiraukan seruannya dan mempercepat jalan ku. "Dasar tua."

Dekan Oswal yang mendengar umpatan ku hanya tertawa dengan kencang.

Satu kata yang terlintas di otak ku. "Gila."




.
.
.





Kini aku berada di sebuah kereta kuda yang menuju desa tempat ku lahir.

"Ugh... Aku mual..."

Serius, kereta kuda setidak enak itu untuk di naikkan. Guncangan nya membuat isi perut ku terasa seperti di aduk-aduk.

Aku memegangi perut dan mulut ku sepanjang jalan. Lalu kereta kuda tersebut berhenti secara mendadak. Aku terbentur pinggir tempat dudukku di dalam kereta.

Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot CardsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang