Aku duduk bersimpuh di samping ranjang tempat kakek terbaring. Menatap sang kakek dengan kekhawatiran yang besar.
"Kenapa bisa seperti ini...?"
Paman Roy yang juga berada di dalam kamar menjelaskan apa yang terjadi kepada ku.
"Hah, jadi seperti ini ceritanya."
Flashback On.
Pov Roy.
"Paman Wein, anda yakin ingin bertemu dengan mereka? Bukankah selama ini anda tidak peduli dengan mereka? Begitu juga dengan mereka yang tidak memperdulikan anda." tanya ku heran.
"... Ada sesuatu yang harus ku pastikan."
Aku mengerutkan kening ku ketika mendengar jawaban dari paman Wein.
"Tidak bisakah dilakukan melalui surat saja?" tanya ku sekali lagi.
"Itu tidak sopan untuk para bangsawan, kau tahu kan?" tanya balik paman Wein.
Aku terdiam. "Itu... Benar." Memang benar, melakukan perbincangan yang serius melalui surat itu tidak sopan bagi para bangsawan. Bisanya surat hanya dikirim untuk menanyakan kabar, janji pertemuan atau pesta undangan.
Akhirnya aku hanya bisa pasrah dan mengikuti paman Wein dengan tenang.
..
Sesampainya kami di tempat pertemuan, kami langsung berjalan ke arah bartender.
"Ada yang bisa dibantu, tuan?" tanya bartender tersebut dengan ramah.
"Saya memiliki pertemuan dengan keluarga 'Snowel'," jawab paman Wein datar.
"Ah, tunggu sebentar, saya akan mengeceknya terlebih dahulu," ucap bartender tersebut.
Setelah menunggu beberapa saat, bartender itu berujar, "Maaf membuat anda sekalian menunggu, mari saya antar ke tempat Earl Snowel berada."
Akhirnya bartender itu menunjukkan jalan ke tempat keluarga 'Snowel' berada.
"Saya pamit undur diri terlebih dahulu, tuan tuan sekalian," pamit bartender tersebut setelah mengantar ku dan paman Wein ke tempat keluarga Snowel berada.
Suara seseorang menyapa indra pendengaran kami, "Lama tidak bertemu, Adik ku."
Aku dan paman Wein menatap ke asal suara tersebut. Seorang pria tua duduk di tengah-tengah meja yang mereka duduki. Disampingnya ada dua orang yang berdiri tegak dengan pedang di pinggangnya. Sepertinya dua orang tersebut adalah kesatria.
"... ?"
Tak ada yang menjawab sapaan orang tersebut.
Pria tua tersebut tertawa dengan sinis, "Heh? Apa sekarang Adik ku mulai membisu?"
"..."
Lagi lagi tak ada jawaban atas pertanyaan pria tua tersebut yang membuat pria tua tersebut sedikit geram.
"Baiklah baiklah, kalian bisa duduk sekarang," ucap pria tersebut sembari tersenyum sinis.
Aku melihat paman Wein yang sudah menarik kursi yang masih tersedia di meja tersebut, dan mengikuti aksinya.
"Bagaimana kabar mu, Adik?" tanya pria tua tersebut sekali lagi.
"Tak perlu basa basi, apa yang ingin kau bicarakan?" ucap paman Wein datar.
"Hahaha!!kau masih sama saja seperti dulu ya," ucap pria tua tersebut menekan kata 'dulu'.
"..." paman Wein tak menjawab, dan masih menatap pria tersebut dengan datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Has a Unique Magic That is None Other Than Tarot Cards
FantasySeorang pria yang bertransmigrasi di dalam novel yang terakhir ia baca. Dunia dimana sihir adalah hal normal di sana. Terlahir kembali menjadi orang yang memiliki sihir unik, Kartu Tarot. Bagaimana jalan cerita pria yang bertransmigrasi di dunia ya...
