012

1K 53 0
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Menuruti perkataan sang tuan, Thalassa masih diam di tempat, sebelum suatu hal menarik rasa penasarannya—sebuah ruangan dengan pintu tertutup yang berada di dalam kamar Arnav. Tak memiliki rasa was-was sedikit pun, wanita itu berjalan penuh yakin menuju ke sana. Gagang pintu berwarna coklat tua itu kini tersentuh oleh tangan lain selain tangan pemiliknya—Arnav.

"Sedang apa kau?" Tiba-tiba suara berat mendominasi. Tampaknya Arnav sudah menyelesaikan mandinya.

Sontak Thalassa terkejut dan membalikkan badannya secepat kilat menyambar. "Maaf, Tuan."

Arnav menatap dengan tatapan marah. Ia tidak suka ada sembarang orang yang menyentuh, apalagi memasuki ruang pribadinya. Pemuda itu pun kini mendekat, dengan handuk putih yang terlilit di bagian perutnya.

Thalassa meneguk saliva, tuannya sepertinya sangat marah, ia menyadari itu.

"Jangan sesekali memasuki ruangan ini!" seru Arnav pelan namun, peringatan itu tak main-main.

"Baik, Tuan. Maaf." Thalassa sejak tadi tidak mendongakkan kepalanya. Ia tetap berada dalam posisi menunduk.

"Lihat aku!"

Perlahan Thalassa menaikkan kepalanya, menuruti perintah. Kini dua pasang mata itu saling menatap. Netra hitam pekat milik Thalassa menyita perhatian Arnav. Lalu pandangan itu berpindah, menyapu seluruh raga Thalassa yang tingginya tak seberapa jika dibandingkan dengan dirinya.

"Apa tuan membutuhkan sesuatu?"

Arnav mengembus napas beratnya. "Ya, aku membutuhkannya." Tentunya dengan mata yang masih menatap lekat pada maid pribadinya yang saat ini berdiri tepat di hadapan dia.

"Beritahu aku agar aku bisa menyiapkannya, Tuan," ungkap Thalassa dengan suara yang terdengar sedikit gemetar.

"Untukku?"

Thalassa mengangguk pasti. "Ya."

Senyuman kecil terbit di bibir Arnav. "Siapa yang mengikat rambutmu seperti itu?"

Arnav menyentuh puncak kepala Thalassa. Ia sangat menyayangkan jika Thalassa harus mengikat rambutnya seperti akan menghadiri acara formal. Dengan sekali tarikan, sebuah jepitan yang tadi menahan tatanan rambut Thalassa kini terlepas, membuat rambut panjang itu terjatuh dan menjuntai bebas.

 Dengan sekali tarikan, sebuah jepitan yang tadi menahan tatanan rambut Thalassa kini terlepas, membuat rambut panjang itu terjatuh dan menjuntai bebas

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang