Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Sebelum membaca bab ini, alangkah baiknya, tempati ruang tenang dan pastikan siap bertaruh waktu. Karena, bab ini lumayan panjang dengan rangkaian 5000 kata. Bagaimana sudah siap? Jika belum disarankan jangan. Simpan saja, bacalah di lain waktu.
Jika sudah, silakan dibaca ☺
⬇️
Di titik paling tengah kota Staiq, di bawah langit malam dengan ribuan gemerlap bintang, dalam dekap udara malam yang melambai tenang. Sebuah mobil sport hitam melaju kencang, jarum speedometer-nya menembus batas wajar. Sang pengemudi duduk dengan fokus yang mulai kabur, matanya memerah dipenuhi amarah, dan dari kepalanya menguar asap frustasi yang enggan padam meski kian malam.
Arnav—pria yang dikuasai kesal—ingin menghancurkan apa saja yang ditemuinya. Telapak tangannya mengepal, menggebrak kasar kemudi di depannya, bersamaan dengan bunyi decit nyaring dari ban mobil yang dipaksa berhenti.
Klakson pengemudi lain terdengar saling bersahutan. Satu mobil menekan klakson paling panjang; mobil itu persis di belakang mobil Arnav yang berhenti mendadak di tengah jalan raya.
"Sial! Berisik sekali mereka. Apa mereka tidak tahu aku ingin ketenangan? Tidak bisakah aku mendapatkannya malam ini saja?!"
Usai menggerutu, pria bertindik itu kembali menginjak pedal gas penuh, meninggalkan kegeraman para pengguna jalan atas tindakan berbahaya yang dilakukannya.
Perjalanan berlanjut, tetapi Arnav masih belum lepas dari lilitan emosinya sendiri. Ia menyalip deretan kendaraan di depannya dengan kecepatan tinggi tanpa antisipasi, menciptakan rentetan klakson dan sumpah serapah menghujaninya.
"Minggirlah, berikan aku jalan, bodoh!" Pria itu menajamkan matanya, mencari celah untuk dilalui mobilnya.
Gerakan Arnav memutar setir beradu dengan pikiran kacaunya. Ia sibuk membagi fokus antara mengemudi dan beban yang menyertai. Di tengah perjalanan, kaca depannya mulai dihampiri beberapa rintik air. Matanya yang sudah sulit melihat akibat amarah kini bertambah kabur karena hujan yang tiba-tiba menyerang.
Rintikan kecil itu perlahan membesar, intensitas jatuhnya pun kian cepat. Melihat hujan, Arnav memejamkan matanya sejenak, pikirannya langsung terlempar pada saat ia dan Thalassa mengunjungi laut, namun Thalassa enggan turun dari mobil karena hujan.
"Tolonglah, jangan terus memikirkan itu," ucapnya, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Karena sudah tiga hari sejak insiden yang menimpa Thalassa dan perkataan dokter itu, Arnav terus dihampiri kegelisahan. Jam tidurnya berkurang, setiap helaan napasnya sungguh gusar. Pria itu berharap bisa mendapatkan ketenangan dengan keluar dari mansion hari itu.
Alih-alih ketenangan ia dapatkan, setiap hal yang ditemuinya justru membuatnya mengingat momen bersama Thalassa. Sial! Beri tahu cara agar tuan muda itu bisa, tidak memikirkan Thalassa, kali ini saja.
Terlalu banyak keanehan yang baru ia sadari. Dulu, ia tidak terlalu peduli pada Thalassa, tentang asal-usul atau hal lainnya. Padahal, jika diingat-ingat saat ini, ada banyak sekali gestur dan tindakan janggal dari wanita itu. Thalassa bahkan tak bisa baca tulis. Di kota Staiq yang peradabannya maju, hal ini sangat mustahil. Bagaimana mungkin seseorang di kota ini bahkan tak mengenyam pendidikan dasar? Ke mana keluarganya, atau dia ditelantarkan hingga harus bekerja sebagai maid di usia semuda itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasíaDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
