Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Hari masih pagi, tetapi ketenangan Arnav buyar ketika anggota kepolisian datang membawa surat perintah penahanan. Dalam surat itu tertulis, jika pihak korban menitik beratkan semua tuduhan pada Arnav. Padahal, sungguh Arnav tidak tahu menahu tentang Alluna. Ia justru baru mendengarnya di detik itu juga; jika Alluna mengalami kecelakaan yang misterius.
Di sinilah Arnav berada, meski dia tidak melakukan apa pun, pihak kepolisian tetap meminta penjelasannya di ruang interogasi.
Arnav menarik napas panjang, mencoba menetralkan suasana hatinya. Ia rasa tak berguna juga menampakkan emosi di depan polisi bodoh yang kini sedang menyecarnya dengan berbagai pertanyaan. Ia masih tidak percaya bahwa dirinya dituduh melakukan kejahatan yang tak pernah dilakukannya.
Setelah lama bungkam, akhirnya Arnav membuka suara. "Hukum saja aku, tapi berikan dulu bukti yang konkret bukan hanya sekadar 'katanya' dan pastikan juga orang yang mengatakannya tidak pernah memiliki riwayat dendam padaku."
Polisi pria itu melipat dua tangannya di atas meja lalu berkata, "Jika kau tak ingin ini berlanjut lebih jauh, berikan saja biaya penyelesaian."
Sontak Arnav mengernyitkan kening bingung. "What the hell? Apa aku tidak salah dengar? Kau ini ingin mengadili atau memperkaya diri?"
Polisi itu menatap Arnav dengan tatapan dingin. "Kau pikir menangani masalah para orang kaya seperti kalian itu mudah? Kalian ini mempersulit pekerjaan kami sebagai polisi. Bahkan kami tidak bisa menjalankan hukum sebagaimana mestinya. Berikan saja jika kau ingin semua ini cepat selesai."
"Kukira ada yang salah di otak kalian yang selalu menempatkan uang di atas segalanya. Kalian tidak bisa menyamaratakan semua individu. Apa dari kata-kataku sebelumnya terdengar pembelaan diri yang ingin kutebus dengan hartaku? Padahal kau yang lebih dulu memintanya, bodoh!" Arnav yang tadinya menghalau semua rasa kesalnya, justru kini meledak begitu saja.
Polisi itu berdiri dengan santai, menganggukkan kepalanya dengan tenang. "Jika kau tidak memilih opsi yang kusarankan, lebih baik persiapkan diri untuk mendekam dalam sel sesuai permintaan keluarga Nasution."
"Tunggu!" Arnav berseru kepada polisi itu yang hendak meninggalkan ruang interogasi. Pria itu berjalan pelan. "Jika kau ingin menahanku, siapkan sel khusus dan aku harus membawa pelayanku, kau tahu orang kaya sepertiku tidak terbiasa melakukan apa pun sendiri."
"Anak sialan!" teriak polisi itu, menatap tajam ke arah Arnav. Arnav hanya tertawa dan melewatinya begitu saja.
Kini Arnav keluar lebih dulu dan matanya melihat seorang wanita yang berlari memasuki pintu masuk. Arnav bermaksud akan menghampirinya, namun wanita itu lebih dulu sampai padanya.
"Tuan, apa yang terjadi?" ucap wanita itu dengan napas yang terengah-engah.
Arnav menatapnya dalam. "Dengan siapa kau ke sini?"
"Tuan Arnest," jawabnya. Setelahnya orang yang dimaksud datang menyusul di belakang.
"Shit! Merepotkan saja." Mata Arnest menatap tajam ke arah Arnav.
"Memang di saat genting seperti ini, siapa lagi yang akan kuhubungi jika bukan saudaraku?" kata Arnav dengan ekspresi manja yang dibuat-buat.
"Mengapa kau tidak menghubungi pamanmu saja, bodoh!" gertak Arnest.
"Menurutmu dia akan meninggalkan pekerjaannya dan berlari menyusulku ke sini? Sayangnya itu hanya akan terjadi jika kau yang ditangkap polisi," balas Arnav tak kalah sarkas.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiaDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
