053

396 34 14
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Please, play!

🎵 You & I - One Direction

🔞

ADULT CONTENT ADVISORY

If you are uncomfortable with such themes, please skip this chapter or proceed at your own risk. Respect the boundaries of the story!
_______

Lengan Thalassa melingkar erat di leher Arnav, seolah takut jika sedikit saja melonggarkan kaitan itu, ia akan terjatuh.

Arnav mengangkat tubuh wanita itu dengan posisi melintang, merengkuhnya dengan erat. Selama langkahnya beradu dengan pasir basah, ia tak sedikit pun melepaskan tatapannya dari wajah Thalassa—ia tak ingin kehilangan satu detik pun dari momen yang nyaris ia tukar dengan nyawanya sendiri.

Pertemuan kembali setelah berjarak, rasanya bak ditumpahi kebahagiaan yang meruah—sesak, namun melegakan.

Thalassa pun begitu. Manik mata hitamnya terangkat, menatap rahang tegas pria yang kini tengah membawanya pulang.

"Perhatikan jalan, Tuan," bisik Thalassa pelan. Ia cemas, takut sewaktu-waktu ada karang atau pengganggu lain yang membuat langkah Arnav tersandung.

"Jalan terlalu membosankan," sahut Arnav, matanya masih terkunci pada Thalassa. "Aku hanya ingin melihatmu."

Thalassa merapatkan bibir, mencoba menyembunyikan senyumnya. Ia sempat mengira Arnav akan melupakannya begitu saja setelah malam itu. Namun, mendengar pria itu mengakui kerinduannya, Thalassa sadar bahwa benang merah di antara mereka belum benar-benar putus.

Pukul tiga pagi di pesisir pantai. Seorang pria dengan pakaian yang sangat basah, menggendong wanita yang memiliki ekor ikan. Logika mana pun akan menganggap pemandangan itu gila—sangat gila. Beruntung, tak seorang pun mengunjungi pantai pada dini hari—kecuali mereka yang memang sudah kehilangan akal sehatnya.

Di kejauhan, Thomas mengamati dari balik kemudi. Ia tersenyum tipis, sebuah binar penuh arti terpancar dari matanya.

"Caroline, kau harus melihat ini. Dia benar-benar mengulang kesalahan yang pernah kau lakukan," ujarnya, merasa haru melihat satu lagi dari bangsanya terikat takdir dengan manusia.

Thomas segera keluar dan membukakan pintu mobil dengan sigap, memastikan tak ada pasang mata yang mengintai. Arnav meletakkan Thalassa di kursi belakang dengan hati-hati. Setelah memastikan wanitanya aman, ia pun ikut masuk dan duduk tepat di sampingnya.

Arnav tidak langsung melepaskannya bahkan setelah pintu mobil tertutup. Tangannya masih melingkar di pinggang Thalassa. Tatapannya turun, menatap bagian dada wanita itu yang terekspos tanpa sehelai benang.

"Tidak adakah sesuatu yang bisa menutupinya?" tanya Arnav dengan alis terangkat bingung.

Thalassa tersentak, ia langsung menyilangkan tangan di depan dada dengan gerakan refleks. "Memang tidak ada, Tuan. Di laut, kami tidak berpakaian."

"Oh, fucking shit! Jadi kau benar-benar membiarkan semuanya melihatmu seperti ini?!" seru Arnav ketus. Dadanya mendadak panas membayangkan yang lain dengan bebas menatap milik Thalassanya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang