Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Seringai tipis memudar seiring kepergiannya. Pria itu memasuki mobil dan pergi menjauhi pantai, meninggalkan keheningan yang hanya diisi oleh desiran ombak. Sementara di kejauhan, sepasang mata tajam sejak tadi memerhatikannya dengan intensitas tinggi. Mata itu menatap tanpa berkedip seakan tak ingin melewatkan sedikit pun; apa yang dilakukan oleh pria itu.
Pemilik mata itu mendekat. Langkahnya mengayun pelan di atas jembatan kayu yang berderak, bayangannya membentang panjang di bawah sorot lampu jingga yang menerangi dermaga, menciptakan kesan gelap yang mengikuti.
Di sana—tempat yang baru saja menjadi tempat berdirinya seorang pria yang membuang buntalan kain hitam—dia juga berada. Sorot matanya menjurus ke arah air laut yang tenang.
Bunyi decitan jembatan kayu kembali terdengar saat dia kembali melangkahkan kaki. Kedua ujung kakinya sudah menyentuh batas, sehingga tidak ada lagi pijakan yang mampu menahan kakinya untuk tetap berdiri. Bunyi gemercik air terdengar bersamaan dengan sosoknya yang menghilang dari pandangan.
°°°
Ribuan bintang menghampar menghiasi langit malam, pijar cahayanya berkedip pelan bak memberi tahu seisi dunia akan keberadaannya di angkasa raya.
Surai panjang hitamnya tergerai diterpa angin malam, sementara pundak kecilnya menurun—menyaksikan pemandangan langit. Tangannya terulur ke atas seakan ingin menangkap satu dari ribuan bintang itu, menghayal dalam diam akan keindahan tak terjangkau. Angin malam menyapu kulitnya menghadirkan sensasi dingin yang membekas.
Di sela aktivitasnya mengagumi langit malam, wanita itu melihat ke bawah—arah pintu gerbang yang sejak tadi tak juga terbuka. Thalassa saat ini sedang berada di rooftop, menunggu tuannya yang belum juga datang.
"Mengapa Tuan Arnav belum juga pulang?" keluhnya seorang diri, suara lembutnya melebur bersama desiran angin malam. Wajah murungnya tak bisa menyembunyikan perasaannya. Malam sudah begitu larut, namun seseorang yang ditunggunya tak kunjung tiba.
Selepas itu, Thalassa turun menggunakan elevator, bergerak tergesa seperti dikejar bayangannya sendiri. Ia keluar dari mansion barat, langkahnya cepat menaiki beberapa anak tangga untuk menuju mansion utama. Tubuh kecilnya langsung melesat mencari keberadaan Caroline.
"Caroline, mengapa Tuan Arnav belum pulang?" tanyanya tanpa berbasa-basi. Ia ingin segera menemukan jawaban atas hal yang membuatnya gelisah.
Setelah sore tiba, Caroline dan Thalassa langsung menuju mansion karena takut majikan mereka akan marah jika tidak menemukan maid-nya. Tetapi, tak satu pun dari mereka yang datang hingga malam tiba. Entah di mana dua tuan muda itu berada.
"Tuan Arnav memang sudah terbiasa seperti itu. Bahkan dia sering pulang saat pagi tiba."
Wajah murung Thalassa kembali terlihat, bukannya Arnav telah berjanji untuk memberikan minuman itu padanya malam ini?
"Sepertinya aku harus menyadari posisiku. Itu bukanlah sebuah janji yang harus ditepati, sepertinya semalam dia hanya berkata saja tidak bersungguh-sungguh."
Kedua alis Caroline bertemu, ia menghentikan aktivitasnya membaca buku, menutupnya dengan pelan. "Apa maksudmu, Thalassa?"
Thalassa menggeleng pelan sembari menampilkan senyuman tipis. "Tidak Caroline."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
