022

784 47 6
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Riuh suasana dan aroma ikan menabrak indera penciuman Caroline dan Thalassa pagi itu. Mereka berdua berbelanja di pusat penjualan ikan yang terletak persis di dekat pantai Athes. Setelah makan pagi para majikannya, Caroline mengajak Thalassa untuk berbelanja karena ia berpikir mungkin saja Thalassa membutuhkan suasana baru.

Embusan angin pantai, aroma khas ikan segar, dan view dekat pantai membuat Thalassa begitu senang. Terhitung sudah hampir sebulan dia tidak berenang di laut asalnya dan rasanya sangat rindu. Akan ia pastikan suatu saat ia datang kembali ke sana—rumahnya.

Pemandangan ikan yang berjejer serta tertata rapi di kanan dan kirinya membuat Thalassa meringis ngilu. Sungguh ia tak habis pikir mengapa para manusia membunuh ikan dalam jumlah yang sangat banyak? Bukankah itu akan mengurangi populasi ikan di laut, jika setiap waktu ditangkap dengan kuantitas yang selaksa? Menurut Thalassa itu sangat tidak wajar, dan merupakan invisible crime.

"Thalassa, lihat banyak sekali ikan-ikan segar. Ini adalah pusat penjualan ikan terbesar di kota ini. Kalau saja kita sedikit terlambat, kita akan kehilangan kesempatan mendapat ikan dengan kualitas terbaik." Caroline berkata pada Thalassa yang setia mengekor di belakangnya.

"Ini ikan salmon kesukaan tuanmu," tunjuk Caroline pada salah satu etalase.

"Bagaimana kau menyebutnya ikan, jika bentuknya saja tidak seperti ikan?" tanya Thalassa karena melihat ikan yang ditunjuk oleh Caroline, hanya berbentuk daging persegi panjang dan berwarna orange.

"Itu tandanya sudah siap diolah," jelas Caroline. "Tuan Arnav sangat menyukai ikan salmon, asal kau tahu."

"Artinya kita harus membeli ini?" tebak Thalassa.

Caroline tersenyum. "Ya, tampaknya kau sudah mengerti sekarang."

Caroline pun meminta kepada sang penjual, agar mengemasi daging salmon segar itu. Setelahnya mereka berbelanja jenis ikan yang lain dan kemudian bergegas pergi.

"Thalassa!" panggil Caroline saat mereka sudah berjalan menuju mobil yang akan mengantar mereka pulang ke rumah majikannya.

Thalassa pun menghentikan langkah dan menunggu Caroline yang tertinggal di belakang. Pandangannya tertuju pada laut lepas yang dengan angkuhnya menampakkan ombak-ombak kecil yang menderu serasa menggelitik telinga Thalassa. Bentangan air itu seakan memanggil lembut namanya untuk kembali.

"Caroline, apakah boleh kita singgah di sana sebentar saja?" pinta Thalassa yang mengarah pada sebuah dermaga dan tentu saja Caroline menyetujuinya.

Caroline memerhatikan Thalassa yang sejak tadi mengembangkan senyum. "Apa kau begitu senang?"

Thalassa mengangguk lalu merentangkan tangan membiarkan angin menabrak seluruh raganya. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya, rasanya wanita itu ingin sekali melompat dan berenang bebas di laut.

"Caroline, jika bekerja sebagai maid, apa kita boleh meminta ijin untuk pergi sebentar?" tanya Thalassa dengan binar mata penuh harap.

"Boleh, boleh saja. Asal tuanmu mengijinkan dan tentunya harus ditemani."

Mendengar jawaban Caroline membuat murung raut wajah Thalassa. "Apa tidak boleh jika seandainya pergi seorang diri?"

Caroline memegang bahu Thalassa. "Memang kau ingin ke mana?"

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang