Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Amov meletakkan pisau dan garpunya, meninggalkan eggs benny-nya yang baru termakan dua suapan. Konsentrasinya teralih sepenuhnya. Bahunya menegap, tatapan matanya tertuju ke arah kiri, di mana salah satu keponakannya berada.
Pria paruh baya itu memerhatikan Arnav yang memegang pisau, namun tak menggunakannya untuk memotong menu sarapannya. Sebaliknya, bilah logam itu ia posisikan memanjang, menusuk-nusuk meja makan dengan irama tak beraturan.
Beberapa hari ini, Amov melihat gerak-gerik Arnav yang sangat berbeda. Keponakannya itu terlihat lebih banyak diam, namun ledakan emosinya lebih sering terjadi. Amov juga mendapat laporan dari beberapa maid tentang perlakuan kasar dan pemecatan sepihak kemarin. Kabar itu tentu sudah sampai ke telinga Amov.
Pria dengan rahang tegas itu mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara.
"Apa kau berniat memotong meja ini dengan pisau sekecil itu?" sindirnya, suaranya tenang namun penuh tekanan.
Sontak, fokus Arnav terbagi. Tatapannya yang kosong kini beralih pada Amov yang sedang menatap dirinya. Bukannya berhenti, Arnav justru semakin mengeratkan genggamannya pada pisau makan itu, memperlihatkan urat di ruas jarinya yang menebal.
Tangan Amov bergerak santai, mengambil cangkir berisi teh hangat, mendekatkan pada bibirnya. Satu tegukan lolos di tenggorokannya yang sedikit menghangatkan rongga dadanya.
"Kalau kau bisa meminta para pelayan di sini untuk mengambilkanmu pisau yang lebih besar, mengapa kau tak melakukannya? Akan sangat lama membelah meja ini dengan pisau itu."
"Jika aku memegang pisau yang lebih besar, maka akan kugunakan untuk memotong lehermu!" sangkal Arnav, terlalu kesal mendengar Amov berbicara seolah-olah masalahnya hanya tentang ukuran sebuah pisau.
Seringai tipis Amov muncul di balik cangkir tehnya. Ia menutup mulutnya sendiri untuk sesaat sebelum melontarkan pertanyaan yang menjadi inti dari permasalahan yang sesungguhnya. "Aku mendengar Thalassa pergi. Apa itu benar?"
Mendengar kata Thalassa, bagian kecil dalam dada Arnav, seakan meronta. Siapa yang mengizinkan pria di depannya itu membahas wanita itu? Sejak semalam, Arnav sudah mati-matian berusaha untuk tak memikirkannya. Lalu, begitu mudahnya mulut Amov mengucapkannya, tanpa beban, tanpa pertimbangan. Sialan!
Gerakan Arnav menggores meja pun terhenti total. Tangannya gemetar hebat, diikuti deru napasnya yang semakin keras. Alih-alih menyuruh Amov diam, Arnav justru memundurkan tubuhnya, membiarkan punggungnya bertabrakan dengan sandaran kursi. Bahunya yang semula tegap kini melemas, dan ekspresi putus asa langsung tersirat jelas di wajahnya.
Pagi itu, ia tidak menyisir rambutnya. Tidak mengenakan pakaian rapi, hanya kemeja sisa kemarin yang melekat di tubuhnya. Dan jangan lupakan, aroma alkohol begitu kuat tercium darinya. Tampaknya, ia terlalu banyak minum semalam.
Amov menganggukkan kepala, paham. Dalam diam, ia mengamati. Ia membaca pola yang berbeda pada saat Rose pergi dahulu. Dulu, Rose—maid pribadi Arnav sebelum Thalassa—pergi tanpa sebab. Namun, keadaan Arnav tidak seperti saat ini, justru terkesan biasa dan tak peduli.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
