024

762 49 14
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Setelah bergelut dengan keputusan panjang, Caroline akhirnya benar-benar membawa Thalassa ke laut. Entah apa yang akan dikatakan Arnav nanti, membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.

Berbekal alasan agar Thalassa selamat, Caroline mencoba meyakinkan diri bahwa keputusannya sudah tepat. Kini mereka berdua telah sampai di laut Athes. Suasana sore berhasil mengambil alih atensi mereka, langit berwarna jingga menghampar bebas di cakrawala, sangat indah nan menawan. Pemandangan matahari yang hampir pulang ke peraduannya melalang indah memanjakan mata.

"Caroline, aku tidak tahu setelah ini apa yang akan terjadi. Namun, akan kuterima apa pun tanggapanmu. Aku mohon, jangan pernah membenciku, aku hanya memilikimu di dunia ini." Air mata Thalassa meluncur bebas di pipi halusnya. Ia sangat takut jikalau Caroline akan membenci dirinya jika tahu siapa dia sebenarnya.

"Bagaimana aku bisa membencimu, Thalassa?" Caroline menyentuh pipi Thalassa, mengusap air mata wanita itu dengan ibu jari.

Thalassa menggenggam tangan Caroline lalu dibawanya ke dadanya. Wanita itu menunduk seakan meminta Caroline menenangkan dirinya. Isakannya melebur bersama riuh angin pantai yang menyapu.

Caroline memeluk Thalassa dengan penuh haru, menempatkan dagunya di pundak Thalassa. Pandangan Caroline kini tertuju pada luasnya laut yang berada persis di hadapannya. Tanpa Thalassa sadari, Caroline pun juga meneteskan air mata.

"Sudah saatnya kau tahu siapa aku sebenarnya," tutur Thalassa, seraya melepas pelukan mereka. Ia menatap Caroline dengan pandangan buram karena terhalang genangan air mata, lalu berjalan mundur menuju bentangan air yang menari bersama ombak kecilnya.

Tak lama setelah itu, akhirnya air laut menutupi sebagian tubuh Thalassa. Ia tersenyum dan melambai pada Caroline di kejauhan.

Sedetik kemudian, kedua kaki Thalassa menyatu menjadi sebuah ekor berwarna hitam nan berkilau. Di bagian wajahnya juga muncul tiga sisik seukuran kelopak bunga mawar. Jari jemari lentiknya, berubah menjadi lebih panjang diikuti kukunya yang juga bertambah runcing. Selaput di sela-sela jarinya mulai tumbuh dan menebal.

Thalassa menyelam, mengambil napas di dalam air, lalu menghirup air sebanyak-banyaknya berharap kristal yang merangkap jantungnya melebur.

Benar saja, kristal itu pecah seketika, saat bertemu air laut. Jantung Thalassa kini sudah kembali berdetak normal, beruntung Thalassa cepat menyadarinya. Ia lupa jika bangsa mermaid akan mengalami pembekuan jantung saat jantungnya tak bertemu air laut. Dia kira semua akan baik-baik saja, karena selama ia tinggal di daratan, sistem pernapasannya tak pernah bermasalah.

Thalassa kini memunculkan kepalanya untuk kembali menyapa Caroline. Ia melambai ke arah Caroline seakan memberi tahu jika dirinya baik-baik saja. Thalassa pun berenang mendekati Caroline yang menunggunya di tepi pantai.

Caroline menatap Thalassa dengan binar mata takjub serta tak percaya.

"Caroline, jika aku berkata jika diriku adalah mermaid, apa kau akan percaya?" tanya Thalassa dengan kerlingan mata tak percaya diri. Dia berpikiran Caroline akan takut ketika melihat dirinya dalam wujud mermaid, lalu pergi dan tak ingin lagi berteman dengan makhluk seperti dirinya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang