045

510 43 14
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Play music above!

Control - Hasley

Nampan berisi potongan buah-buahan segar berada di tangan Caroline. Ia berjalan pelan melewati koridor yang terhubung dengan kamar Arnav—setelah mendapat izin—tentu saja.

Caroline menekan deretan tombol akses masuk ke kamar Tuan Muda Arizona itu. Jika Arnav hanya cukup menempelkan sidik jarinya, maka orang lain harus menekan kode sandi dengan benar untuk membukanya.

Pintu berdengung pelan, lalu terbuka. Caroline melangkah masuk, tatapannya langsung jatuh pada sosok Arnav yang masih duduk di sisi ranjang, wajahnya tampak keras dan lelah.

"Maaf, Tuan. Aku membawakan Thalassa beberapa buah-buahan. Kurasa dia membutuhkannya."

Arnav mengangkat sebelah alisnya, tatapannya tajam menembus Caroline. Ia memberi isyarat lewat matanya agar Caroline masuk. Pria itu tidak tahu bahwa di balik sikap sopan Caroline, ada rasa khawatir berlebih terhadap kondisi Thalassa.

Siang itu, keadaan Thalassa sudah membaik. Ia sudah tidak lemas berkat bubur gandum yang mengisi perutnya, bubur yang dibawakan langsung oleh Arnav dengan tangannya sendiri. Tentu Thalassa sungkan mengetahui dirinya menyusahkan majikannya, ia melihat sendiri bagaimana Arnav kerepotan membawa mangkuk bubur itu dari dapur.

Arnav melakukan itu karena melarang Thalassa keluar dan melakukan aktivitas sebelum benar-benar pulih. Ia juga tak mengizinkan orang lain memasuki kamarnya, sehingga tak seorang pun—kecuali dirinya dan sekarang Caroline—mengetahui kondisi Thalassa yang sebenarnya.

Meski seisi mansion sempat dibuat panik karena Arnav yang memarahi semua maid tadi pagi. Arnav jelas tak menghiraukan para maid yang bertanya pasal Thalassa, niatnya hanya ingin memberi peringatan agar tak satu orang pun berani mencelakai Thalassa, terutama setelah insiden Alluna yang menyiram Thalassa tempo hari.

Caroline berulang kali meminta izin Arnav untuk melihat keadaan Thalassa. Setelah kepergiannya semalam, Caroline bingung akan keadaan mansion yang kacau. Semua maid dikumpulkan, sementara Arnav berdiri dengan suara yang meninggi.

Mendengar perkataan Arnav tentang Thalassa, Caroline langsung mendekat, tentu saja ia cemas. Setelah menerima beberapa penolakan, akhirnya Arnav mengizinkan Caroline untuk masuk ke kamarnya, bertemu dengan Thalassa.

Caroline meletakkan nampan berisi buah itu di meja. Saat ia melirik Thalassa yang setengah duduk di ranjang, sebuah tatapan penuh makna tersembunyi terlempar di antara mereka berdua. Thalassa membalas tatapan itu dengan bingung, sementara Caroline harus mati-matian menyembunyikan kekesalannya saat melihat kalung yang ia berikan sudah tidak melingkar di leher Thalassa.

"Tuan, kurasa Anda perlu membersihkan diri dan beristirahat. Biar aku yang menjaga Thalassa." Melihat kondisi tuannya, Caroline sudah tahu pasti Arnav tidak tidur semalaman. Kondisi Arnav tidak terlihat baik.

Arnav sedikit mengangkat kepalanya, melirik Caroline dengan lirikan tajam.

"Maaf, Tuan. Sepertinya Thalassa juga harus pindah ke kamarnya sendiri." Lagi-lagi Caroline memberikan saran untuk Arnav, pasalnya ia merasa aneh jika Thalassa harus berada di kamar majikannya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang