029

757 44 25
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Play, mulmed
Butterflies - Abe Parker

And, Enjoy it!

Angin malam bersemilir lembut, menggelitik raga seorang pria yang kini berdiri tegap di sebuah balkon yang terhubung dengan kamarnya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Angin malam bersemilir lembut, menggelitik raga seorang pria yang kini berdiri tegap di sebuah balkon yang terhubung dengan kamarnya. Kerah kemejanya tampak berantakan dengan dua kancing bagian atas yang dibiarkan terbuka. Kepulan asap tebal terlihat mengepung tubuhnya—asap yang berasal dari vape yang disesapnya.

Malam itu Arnav merasa gelisah, tak bisa berlama-lama berada di dekat Thalassa—maid-nya yang kini terbaring di tempat tidurnya. Kian resah perasaan Arnav, pasalnya keberadaan Thalassa membuat gejolak aneh di dadanya semakin mencuat—gejolak yang diiringi debaran tak teratur, rasa ingin selalu menatap, juga perasaan sialan yang tidak tahu bagaimana bisa datang.

Sekuat apapun mencoba, tetapi Arnav selalu kalah—kalah oleh keinginannya. Terbukti di detik itu juga ia masih saja menoleh ke belakang—menatap wajah Thalassa, meski terhalang pintu kaca juga tirai putih. "Sialan! Harus ke mana aku agar tak melihat wajahnya."

Tuan muda itu pun kini bergegas pergi guna menghindari hal yang membuatnya tak tenang. Kala pintu kaca otomatis itu terbuka, lalu disusul tubuh tingginya yang memasuki kamar. Di tengah langkah panjangnya, sesuatu di meja merebut perhatian Arnav. Mata tajamnya teralih pada kecintaannya—hidup matinya—sebuah botol berisi cairan bening.

Bagaimana ia bisa melupakannya, sudah dua hari ia tidak membasahi tenggorokannya dengan minuman itu. Garis lengkung bibirnya kini tergerak yang menandakan ia tersenyum. Langsung saja ia mencengkeram leher botol itu. Kemudian Arnav duduk di kursi dekat meja—menikmati minuman kesukaannya. Begitu cairan bening itu mengalir di teggorokannya, sensasi dingin langsung membanjiri dadanya yang sejak tadi begitu panas.

Di ruang sunyi itu, di tempat yang tak jauh dari Arnav, terdengar suara lenguhan. Geliat pelan muncul setelahnya, diikuti kelopak mata yang perlahan terbuka. Dengan pandangan yang masih samar, Thalassa mendapati langit-langit putih, namun berbeda dengan lagit-langit di kamarnya.

"Di mana ini?" lirihnya berusaha bangkit. Udara di mulutnya memaksa keluar, menghabiskan semua sisa rasa kantuknya.

Begitu ia bangun, pemandangan pertama yang dilihat olehnya adalah punggung lebar seorang pria yang duduk membelakanginya.

"Mengapa aku berada di sini?" gumam Thalassa mencoba mengingat hal terakhir yang dilakukan olehnya. Seingatnya ia berada di mobil bersama tuannya, mungkinkah ia tertidur dan Arnav yang membawanya ke sini?

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang