020

875 53 4
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

⚠️
MATURE CONTENT ALERT❗

📍 House Bottle Bar, 02:00 AM.

Satu botol, dua botol? Ahh, rasanya masih kurang untuk menghilangkan dahaga pria yang sangat kehausan itu. Sudah tiga botol Cognac kosong tergeletak di dekatnya. Namun, pria itu terus memesan, tak peduli berapa banyak yang harus dia habiskan.

"God damn! Ini sangat enak!" serunya seraya menciumi botol kaca yang licin itu.

Suara dentuman musik yang begitu keras tak sekali pun mengganggunya. Arnav sangat menyukai suasana ini, bergabung dengan para pecinta dunia malam dan mengaliri tenggorokannya dengan minuman kesukaannya.

"Arnav!" sapa seorang lelaki bertubuh besar yang kemudian memeluk Arnav dengan hangat.

Arnav yang sudah sangat mabuk, memicingkan matanya menelaah siapa pria yang menyapanya. "Oh, Sean!" Arnav mengingatnya. Sean adalah seniornya di UGRAS yang juga pemilik House Bottle.

"Sudah lama sekali aku tak melihatmu. Aku kira kau berhenti dan menjadi pria baik," sindir Sean karena sudah lama tak melihat Arnav berkunjung ke kelab miliknya.

"That's big no way. Bastard is still a bastard." Arnav sekali lagi meneguk habis cognac ke-empatnya.

"Chill, Bro!" kekeh Sean. "Jadi bagaimana? Kau pesan yang seperti apa untuk malam ini?"

"Sebenarnya aku ke sini hanya untuk minum, tapi jika kau menawarkannya ... give me one of your best bitches."

Sean dengan tawa khasnya menepuk pelan bahu Arnav dan memintanya untuk menunggu sebentar.

Setelah Sean meninggalkannya, Arnav menunggu sambil menghisap dalam rokok elektriknya. Pria itu melemaskan tubuh di sofa hitam khusus tamu VIP. Matanya meneliti seluruh pengunjung bar. Hingga pandangannya menangkap Sean yang berjalan diikuti seorang wanita berambut cokelat muda.

"Arnav, namanya Valleri salah satu anak terbaikku," ungkap Sean memperkenalkan wanita itu.

Arnav pun meneliti Valleri. "Ok. Silahkan tinggalkan kami. Dan seperti biasa urus roomnya."

Sean memberi salam hormat lalu kemudian pergi memesankan kamar khusus untuk Arnav.

"Hello!" sapa Valleri. Wanita yang memakai syal abu-abu itu berjalan pelan dengan penuh gaya sensual ke arah Arnav.

"Berapa usiamu? Kau tampaknya masih sangat muda," tanya Valleri yang kini sudah duduk melintang di pangkuan Arnav. Kaki jenjangnya ia angkat dan bertumpu di kakinya yang lain.

"Siapa yang mengijinkanmu duduk seperti itu?" tegur Arnav merasa risi melihat Valleri duduk di pangkuannya.

"Bukankah kau memesanku untuk dipuaskan? Jadi, ayolah bekerja sama, Sayang." Lidah Valleri tiba-tiba menjilati dada Arnav lewat kerah bajunya yang terbuka.

Dengan keras Arnav mendorong Valleri. "Aku memesanmu bukan berarti kau bebas menyentuhku, Jalang!"

"Oh, kasar sekali," tegur Valleri sembari menutupi mulutnya. Wanita itu pun beranjak dan kemudian duduk di samping Arnav.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang