041

588 39 13
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Mulmed 👆🏼 Memories by Conan Gray

Udara sejuk pagi menari di sekitar, embun di dedaunan masih membingkai. Kesejukan fajar menyambut beberapa mata yang sudah terbuka. Desas-desus para maid terdengar. Mereka memerintah satu sama lain untuk menyegerakan tugas masing-masing. Karena setelah ini, mereka diperintah untuk berkumpul.

Dan pagi itu, di ruang utama, para maid dan bodyguard berbaris. Para maid dengan seragam hitam putih yang rapi dan pakaian serba hitam dikenakan bodyguard yang tegap.

Mata fokus serta raut serius mereka tujukan pada wajah tegas serta profesional—Amov—tuan besar mereka.

Para maid saling menatap, ada yang berbisik samar dengan rekan sebelahnya. Sebagian dari mereka tidak paham mengapa mereka diperintah berbaris pagi itu, tidak seperti hari-hari sebelumnya.

Jumlah para maid dan bodyguard jika digabung mencapai seratus lebih. Pasalnya, memang semua staf yang bekerja di Mansion Arizona, Amov panggil untuk berkumpul pagi itu.

Di bagian depan, Caroline, Thalassa, dan Grace berdiri memimpin barisan, selaku kepala para maid di mansion. Juga Jonas, Thomas dan Steven di depan barisan para bodyguard.

Pandangan Amov mengedar, memerhatikan seluruh pekerjanya. Dengan intonasi datar, ia mulai berbicara, "Sebelumnya terima kasih, sudah bekerja sangat baik. Mari bertepuk tangan sebagai apresiasi untuk kalian semua."

Riuh tepuk tangan menggema, diiringi riang tawa gembira. Mereka tersenyum bangga, bahkan sebagian dari mereka ada yang sampai mengeluarkan air mata. Begitu senang, bahagia, karena mendapat atasan yang dermawan, lembut bertutur, dan tentunya pesona yang matang.

"Aku ingin menyampaikan sesuatu. Para kepala pelayan tentunya sudah mengetahui rencana ini, tetapi kalian belum."

"Perusahaan yang aku pimpin, sebentar lagi akan mengadakan acara besar. Tiga puluh tahun berdirinya Arizona Ocean Trader Company, aku berencana akan melibatkan kalian dalam acara ini. Jadi, aku tak perlu menyewa pelayan lain," lanjut Amov.

Para maid saling menoleh dan mengangguk ringan, mengerti ke arah mana pembicaraan tuannya.

Di samping Amov, berdiri Arnest yang menyimak isi pengumuman penting itu. Sementara Arnav berdiri di dekat dinding, dengan sebelah bahu dan kepala yang bersandar pada dinding.

Di sela bibirnya terdapat benda putih panjang dengan ujung bara yang menyala. Jemarinya menjepit benda itu di antara telunjuk dan jari tengah. Asap mengepul, menciptakan tirai kabut sesaat di depan wajahnya sebelum menghilang melebur dengan udara.

Sejak tadi, matanya tak berpindah dari seorang maid yang berdiri di antara Grace dan Caroline. Seorang maid yang memiliki tubuh paling kecil dibanding yang lain.

Sesekali Arnav menghisap kembali rokoknya, tetapi matanya masih enggan terlepas, menatap Thalassa dengan lekat, nyaris melahap.

"Fucking shit! Milikku yang paling cantik di sana." Suara hati Arnav melengking di kepalanya. Seiring dengan itu, ia menggeleng samar, sebelah bibirnya terangkat membentuk seringai tipis, penuh kepuasan.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang