Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Saat pagi, keadaan di mansion dihebohkan oleh seruan keras Amov. Suara lantangnya terdengar karena dia baru saja mendapat kabar mengejutkan. Seluruh penghuni mansion pun mendekat, penasaran akan apa yang terjadi.
Caroline yang kebetulan berada tak jauh darinya, langsung bertanya, "Ada apa, Tuan?"
Amov tampak masih memegang ponsel yang menyatu dengan telinganya—fokus mendengar penjelasan lawan bicaranya. Selepas itu, tangannya menurun, lalu mengembuskan napas—berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"Caroline, di mana Arnav?" ucapnya kemudian.
Caroline dengan cepat menjawab, "Kurasa masih di kamarnya, Tuan."
Pria paruh baya itu berjalan menuju kamar Arnav untuk memastikan suatu hal. Mencari kebenaran tentang apa yang baru ia dengar.
Amov pun meminta Caroline untuk membuka akses menuju kamar Arnav, akan tetapi, sinar merah menyala—menandakan sang pemilik kamar mengunci akses masuk dari luar.
Menautkan kening, Amov pun kini mencoba untuk menekannya sendiri. Namun, hal yang sama terulang. Sinar merah kembali menyala dan pintu itu masih tertutup.
"Arnav!" panggil Amov sembari tangannya mengepal, mengetuk pintu dengan keras. "Mengapa dia menguncinya?"
"Maaf, Tuan. Tidak biasanya seperti ini. Akan kucoba lagi." Caroline kembali menekan sandi, tetapi tetap tertolak.
"Sudahlah, Caroline. Sepertinya dia memang menguncinya."
Caroline pun mengetuk pintu. "Permisi, Tuan Arnav."
"Di mana Thalassa?" Amov bertanya karena mungkin saja maid itu mengetahui sesuatu.
"Sejak semalam, aku tak melihatnya, Tuan." Mulut Caroline membulat, ia mengingat satu hal penting. "Maaf, Tuan. Semalam Tuan Arnav pulang dalam keadaan kacau, seluruh pakaiannya terlihat basah," beritahu Caroline.
Sejenak Amov meneduhkan pandangan, tangannya terangkat memegang dagu. "Sepertinya benar apa yang dikatakan Jonas."
"Maaf jika terlalu lancang, Tuan. Tetapi kalau boleh tahu apa yang terjadi? Aku terlalu khawatir mendapati kondisi Tuan Arnav semalam." Caroline berkata dengan tubuh membungkuk.
"Jonas berkata, ia menemukan mobil Arnav mengalami kecelakaan dan terbakar. Apa dia terluka Caroline?" Amov begitu cemas mengetahui itu.
"Sepertinya tidak, Tuan. Hanya saja pakaiannya basah. Dan dia juga datang bersama seseorang semalam."
Amov menggelengkan kepala, berdecak pelan. "Siapa orang itu?"
"Aku juga tidak tahu, Tuan. Tetapi Tuan Arnav mengatakan jika orang itu telah menolongnya."
"Baiklah. Aku hanya perlu memeriksa keadaannya. Mengapa dia tak pernah mau menceritakan apapun padaku."
Amov kini duduk di sebuah kursi, fokusnya tertuju pada beberapa bodyguard yang ditugaskan untuk membantu membobol kunci berteknologi canggih itu. Amov khawatir jika terjadi apa-apa pada Arnav di dalam sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
