Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Let's play music in mulmed to keep your company, for reading this part.
🎵 ️Forever and ever and always
•
⚠️ Dalam bab ini terdapat adegan dewasa, di bawah umur masih belum disarankan. Bijaklah memilih bacaan!
"Thalassa."
Di tengah perayaan itu, terdengar panggilan seseorang yang mengalihkan perhatian mereka. Membuat keduanya kini menoleh ke asal suara, dengan ekspresi yang berubah drastis. Mencari tahu siapa yang memanggil.
Dari arah pintu masuk halaman mansion, muncul sosok pria dengan wajah yang terlihat lelah. Penampilannya berantakan, kemeja kusut yang belum sepenuhnya kering, rambut yang biasanya terlihat rapi kini justru tak begitu. Bahunya pun terlihat menurun seakan pasrah pada keadaan yang diterimanya.
Pria itu berjalan mendekati Thalassa dan Caroline dengan langkah pelan dan tatapan tajam yang hanya terarah pada wanita yang selalu berputar di setiap sudut kepalanya—Thalassa.
Dengan sisa tenaganya, ia mencoba melangkah lebih dekat. Wajahnya tampak pucat akibat kelelahan. Seketika dia menghentikan langkah tepat di depan Thalassa.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Thalassa tentu saja khawatir mendapati kondisi sang tuan yang demikian.
Saat tangan Thalassa bergerak hendak menyentuh kerah kemeja Arnav untuk merapikannya, Arnav dengan gerakan cepat menangkap pergelangan tangan itu, menariknya turun ke dadanya. Sementara tatapan tuan muda itu enggan terlepas dari indah paras Thalassa. Belum genap dua puluh empat jam Arnav tak melihatnya, ia merasakan kehampaan yang nyata, seakan dirinya selalu butuh Thalassa di setiap detiknya.
Manik mata Arnav masih belum berpindah menatap objek yang sama. Tangan Thalassa di genggamannya ia bawa menyentuh pipinya. Sentuhan itu terasa bagai air hujan yang menetes untuk tanah tandus. Mata Arnav terpejam merasakan sentuhan lembut Thalassa di pipinya.
Bahkan pertemuannya dengan Thalassa, membuatnya lupa akan seorang lelaki yang dibawanya ke mansion-nya. Juga Caroline yang saat ini setia berdiri di samping Thalassa. Mereka tidak hanya berdua di sana, namun, Arnav tak menghiraukannya.
"Tuan, siapa dia?" Pertanyaan dari mulut Thalassa memecah konsentrasi Arnav.
Sial! Dia hampir lupa telah membawa pria itu ke mansion miliknya. "Entahlah aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin membalas budi padanya karena telah menyelamatkanku."
"Menyelamatkan? Memang apa yang terjadi, Tuan?" tandas Caroline.
"Tanyakan saja padanya. Aku terlalu lelah untuk berbicara. Beritahu Thomas, beri dia tempat di sini," perintah Arnav. Tempat yang dimaksud adalah sebuah pekerjaan. Arnav berniat memberi Victor—pria yang menyelamatkannya—suatu pekerjaan di mansion-nya, sebagai tanda terima kasih yang tak bisa ia ucapkan dengan mulutnya.
Saat Caroline mendekati pria itu, Victor justru menghindar.
"Aku akan pergi. Aku hanya ingin tahu seperti apa wujud mansion yang selalu kau sebut itu." Mata Victor meneliti bangunan megah itu sebelum dirinya benar-benar pergi.
"Terserah saja, Thalassa sepertinya aku perlu berbicara denganmu," pinta Arnav.
"Baik, Tuan." Thalassa pun kini berjalan mengikuti Arnav dari belakang. Entah hal apa yang akan mereka bicarakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
