042

582 35 8
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

🎵 Music, Girl Almighty - 1D

🔞

This part sexually explisit contains. You must be at least 18 y.o to read this part! Please, be wise!

Perayaan pesta di gedung masih berlangsung, dengan denyut musik dan suara yang kian mengudara. Euforia bahagia tak dirasakan oleh Arnav yang malam itu memilih pulang, menarik diri dari ramai yang tak ia inginkan.

Mengapa pula Alluna harus tiba-tiba datang dan membuat kacau?

Sejak dulu wanita itu selalu begitu. Bicaranya, tingkahnya, bahkan diamnya pun mampu menyulut api amarah dalam diri Arnav. Bisa dikatakan, kebencian Arnav pada Alluna benar-benar tak bertepi. Setiap kali Alluna mendekat, kendali diri Arnav seketika lenyap, memaksanya tenggelam dalam lautan emosinya sendiri.

Perkataan Alluna tadi—jangan pernah ada yang percaya. Arnav tidak pernah benar-benar ingin menyentuh wanita itu, sungguh, semuanya terjadi di luar kendalinya.

Dan malam itu, derap langkahnya menghentak setiap anak tangga yang dilewatinya. Hingga langkahnya berhasil menyentuh anak tangga terakhir. Kedua kaki Arnav mengayun cepat mendekati pintu utama. Didorongnya pintu besar itu dengan satu sentakan keras, selaras dengan deru napasnya yang memburu panas.

Dari belakang, Thalassa hanya diam memerhatikan sikap Arnav yang demikian. Thalassa merasa udara di sekitarnya menebal, begitu dingin, hening, dan itu sangat menyesakkan. Sejak kepergian mereka dari pesta, tak satu kata pun lolos dari bibir Arnav. Di dalam mobil pun, Arnav hanya diam mengabaikan Thalassa di sampingnya.

Thalassa membuang napas pasrah. Ia tahu suasana hati tuannya sedang tak baik saat itu. Tangannya memegang gagang pintu vertical itu dengan ragu, menutupnya dengan perasaan tak menentu.

"Tuan," panggil Thalassa pelan.

Tetapi, Arnav masih diam tak bersuara. Pria itu mencoba menetralkan gemuruh di dadanya, membiarkan keheningan mengepung sekitarnya. Sialan! Thalassanya tidak boleh menjadi pelampiasan amarahnya—tidak boleh!

Kepalannya menguat, ia berusaha meredam semua kesal yang menguasai. Meski tak menoleh, suara seraknya terdengar. "Hm?"

"Sebaiknya Anda ke kamar dan beristirahat, Tuan. Akan kubawakan teh." Keadaan itu sangat membuat Thalassa terjebak dalam situasi canggung. Setiap gerakan Arnav membawa beban khawatir dalam diri Thalassa.

Thalassa berbalik, melangkah penuh hati-hati menuju dapur. Tenang saja, ia hanya perlu membuat secangkir teh hijau hangat, mengantarnya ke kamar tuannya, dan setelah itu selesai.

Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara tuannya, kali ini sedikit lebih keras dan tajam. "Tidak perlu!"

Thalassa kembali melihat punggung lebar Arnav yang sejak tadi membelakanginya. Pria itu tetap diam, berdiri mematung di sana, menatap ke arah yang tidak jelas—mungkin ke luar jendela, atau mungkin hanya pada kehampaan belaka.

Setelah beberapa saat, Thalassa memberanikan diri untuk berbicara lagi. "Tuan, jika Anda butuh waktu sendiri, aku bisa pergi."

Arnav tidak menjawab, tetapi Thalassa bisa melihat sedikit gerakan kepala yang bisa diartikan sebagai tanda bahwa Arnav mendengar. Ia tak perlu menunggu jawaban, yang ia harus lakukan sekarang adalah pergi—memberikan ruang untuk tuannya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang