034

651 44 4
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Please, play music in multimedia!

• They don't know about us - One Direction

🤍🤍🤍

Ruangan besar, luas dan begitu sejuk, serta lantai putih yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu yang menggantung begitu memanjakan mata. Di setiap dinding terpajang logo-logo mobil mewah. Barisan sport car, classic car, convertible car, dan banyak jenis mobil lainnya—tertata rapi dengan berbagai warna mewah serta modelnya.

Hentakan hells Thalassa menggema—mengimbangi langkah Arnav yang fokusnya tertuju pada setiap sudut yang menyuguhkan icon mobil terbaru.

"Tuan, mengapa banyak sekali mobil di sini?" tanya Thalassa dengan mata yang masih menatap takjub pada deretan mobil di samping kiri dan kanannya.

"Kita sedang mengunjungi tempat jual beli mobil," balas Arnav seraya memutar bola matanya. "Jika bukan kau yang bertanya, aku tak akan menjawab pertanyaan bodoh itu," lanjutnya dalam hati.

"Anda akan membeli mobil, Tuan?"

Arnav hanya mengangguk, langkahnya terus berlanjut.

"Bukankah di mansion ada banyak sekali, untuk apa membelinya lagi?"

"Thalassa," panggil Arnav dengan gemas—langkahnya terhenti kali ini. Raga tegapnya menghadap ke arah kanan, tempat di mana Thalassa berdiri. Ia membungkukkan tubuhnya hanya untuk menatap kedua mata polos yang kini berkedip dengan cepat itu.

Thalassa yang kini juga menatap Arnav pun menjawab, "Iya, Tuan?"

Arnav tersenyum lepas, mengapa ia sekarang tidak bisa menegur Thalassa? Bahkan sekedar untuk menyuruh wanita itu diam saja, ia tak bisa.

Tuan muda itu mengusap wajah diiringi embusan napas beratnya. "Aku membelinya, karena mobilku sudah tidak ada. Kau tahu, tadi kita mengunjungi tempat di mana mobilku terbakar dan tak bisa dipakai lagi. Jadi, aku akan membelinya sekarang. Kuharap itu cukup untuk menjawab semua pertanyaanmu."

"Mobil Anda terbakar? Bagaimana bisa? Dan ... Tuan, apa—apa kejadian itu terjadi semalam saat Anda pulang dalam keadaan berantakan?"

Ternyata jawaban Arnav tidak membuat wanita itu berhenti bertanya—justru semakin banyak menyecarnya dengan pertanyaan lain. Pria itu sangat tidak ingin membahas hal itu, namun untuk Thalassa itu sebuah pengecualian.

"Iya, aku mengalami kecelakaan dengan kronologi yang tidak masuk akal. Kau tahu, aku sudah membelikanmu minuman yang aku janjikan malam itu. Aku sudah berusaha menyelamatkannya dan sialnya! Tubuhku yang sialan ini harus kehilangan kesadaran. Fuck! I don't get it!"

Thalassa menyimak dengan berbagai pertanyaan yang berputar di kepalanya. "Mobil itu terbakar dengan Anda yang masih berada di dalamnya?"

"Entahlah. Tapi, aku yakin aku sempat melihat kobaran api sebelum itu."

Thalassa spontan memutar tubuh Arnav—meneliti dengan seksama. Tak ada satu pun luka bakar, ia pastikan itu. "Sulit dipercaya. Anda selamat dari kobaran api itu?"

"Tidak, tidak. Aku tidak mengatakan aku selamat dari kebakaran itu. Aku tidak tahu pasti, bisa saja ada yang menarikku keluar sebelum api itu membakar habis mobilku. Sudahlah, aku tak ingin membahasnya. Sekarang temani aku memilih mobil." Arnav menarik lembut tangan Thalassa.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang