052

422 45 24
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Hello, 4000 kata untuk bab ini 🌊

Setelah tiba di mansion, Arnav langsung menuju kamarnya tanpa menyapa siapa pun. Langkahnya berat, seolah setiap pijakan menguras sisa tenaganya.

Begitu pintu tertutup, ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Punggungnya menyentuh sprei dingin yang terasa asing—ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali benar-benar beristirahat di sana. Matanya terasa perih. Berhari-hari ia berperang dengan insomnia dan rasa bersalah yang tak kunjung reda.

Dan pagi itu, Arnav menyerah.

Ia memejamkan mata tanpa mengganti pakaian, tanpa membasuh wajah, bahkan tanpa melepas sepatu kulitnya. Tubuhnya tak lagi memiliki sisa tenaga untuk sekadar peduli.

Dengkuran halus perlahan lolos dari bibirnya yang sedikit terbuka—tidur yang datang bukan karena tenang, melainkan karena tubuhnya telah mencapai batas.

Tak lama, Ryn, seorang maid, memasuki kamar untuk mengambil pakaian kotor. Ia sempat tertegun mendapati posisi tidur tuannya yang berantakan—tubuhnya melintang berlawanan arah dari posisi bantal. Dengan gerakan hati-hati, agar tidak menimbulkan suara, Ryn membungkuk dan melepaskan tali sepatu Arnav, lalu menyingkirkannya ke sudut ruangan.

Ia berjalan menuju keranjang pakaian kotor. Keningnya berkerut ketika hanya menemukan satu pasang kemeja dan celana di dalamnya. Padahal, sudah tiga hari ia tak menyentuh keranjang itu.

"Apa dia tidak berganti pakaian sama sekali?" gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Namun, ia segera menggeleng kecil. "Sudahlah, tugasku hanya mencuci, bukan mengurusi hidupnya."

Ryn pun keluar membawa keranjang itu di pelukannya.

"Ryn?"

Panggilan tersebut membuatnya berhenti di ambang pintu.

"Ya, Caroline?"

Caroline menghampiri dengan langkah tergesa. "Apa Tuan Arnav ada di dalam?"

"Iya, dia sedang tidur lelap sekali," jawab Ryn pelan.

"Sebaiknya jangan diganggu. Dia pasti sangat kelelahan," bisik Caroline.

"Memang apa yang terjadi padanya? Tapi Caroline, lihat ini. Beberapa hari terakhir Tuan Arnav sepertinya tidak berganti pakaian. Keranjangnya hampir kosong," ucap Ryn, mengangkat keranjang itu.

Caroline terdiam sejenak. Matanya tertuju pada sepasang pakaian di dalam keranjang yang Ryn tunjukkan. "Bukan apa-apa. Lanjutkan pekerjaanmu, Ryn."

Ryn mengangguk, meski kebingungan, kemudian berlalu.

Setelah Ryn menghilang di koridor, Caroline menghela napas panjang sambil menatap pintu kamar Arnav yang tertutup.

"Aku harus pergi sekarang," lirihnya seorang diri.

°°°

Setelah mendapatkan izin dari Arnest dan Grace, Caroline segera bergegas. Waktunya terbatas; setiap izin yang diberikan kepada pelayan mansion selalu memiliki batas waktu tertentu.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang