030

789 47 14
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Pecahan gelas berbunyi nyaring, memekakkan telinga seorang wanita yang kini membelalak menatapi beling yang berserak tepat di dekat kakinya. Dengan gemetar, tangannya terulur ke bawah, meraih pecahan demi pecahan. Ketika jemarinya menyentuhnya, serpihan kaca itu menggores jarinya diikuti darah segar mengalir setelahnya.

Wanita itu menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri di tengah kepanikan yang menyerang. Detak jantungnya berpacu cepat seperti sebuah mesin yang bekerja maksimal. Darah segar itu terus menetes, membuat beling yang semula bening kini berwarna merah.

"Thalassa!" panggil seseorang yang kini menarik mundur Thalassa dari tempatnya. "Tanganmu. Sebaiknya kau tinggalkan saja, kau bisa memintaku untuk membereskan ini."

"Aku pikir aku bisa mengerjakan ini. Maaf, Caroline." Thalassa menunduk—menyesal karena telah terlalu percaya diri. Ia mengira dirinya dapat melakukannya—mengambil pecahan itu dengan tangannya. Namun, ternyata pekerjaan itu tak semudah seperti apa yang dibayangkannya. Lebih dari satu bulan dirinya menyesuaikan diri dengan berbagai aktivitas yang dilakukan manusia, tetapi ia belum sepenuhnya bisa.

"Sudahlah, kita obati lukamu dulu. Aku akan meminta yang lain membersihkan pecahan itu."

Kini Caroline dan Thalassa duduk di sofa panjang yang terletak di ruang santai keluarga Arizona. Mereka bebas menggunakan fasilitas milik tuannya, karena majikan mereka pun mengizinkan. Bagi Amov, tak ada batasan yang berarti antara pelayan dan majikan.

"Apa yang kau pikirkan sehingga menjatuhkan gelas dan mencelakai dirimu seperti ini?" tanya Caroline sembari membalut luka di telunjuk Thalassa. "Bahkan lukamu yang kemarin belum sepenuhnya sembuh."

"Tak ada Caroline, aku hanya kurang berhati-hati saja."

"Sudah selesai. Lain kali berhati-hatilah, Thalassa. Apa kau berniat akan melukai seluruh jarimu?" ketus Caroline.

Nada bicara Caroline membuat Thalassa tertawa ringan. "Tentu saja tidak."

"Hari sudah siang, akan sangat membosankan jika kita menghabiskannya dengan diam saja menunggu para majikan kita datang." Caroline berkata di tengah kesibukannya merapikan kotak darurat.

"Lalu apa yang akan kita lakukan?" balas Thalassa dengan suara rendah.

Seulas senyuman terbit di wajah Caroline. "Bagaimana jika kita pergi ke laut. Kau harus menjaga jantungmu bukan?" Caroline sedikit berbisik pada kalimat akhir yang ia katakan, takut jika akan ada orang lain yang mendengar percakapan rahasia mereka.

Thalassa terpaku, lalu berkedip cepat. "Kau yakin Caroline?"

Caroline mengangguk dengan antusiasme tinggi.

"Lalu bagaimana jika tuan-tuan kita datang saat kita tak ada?" Tentu Thalassa menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya, juga menebak berbagai kemungkinan yang akan terjadi jika mereka benar-benar pergi.

"Mudah saja, aku akan mengatakan kita berbelanja."

"Caroline," kata Thalassa dengan mata menyelidik dan senyum yang tertahan.

Akhirnya tawa Caroline meledak. "Tak apa Thalassa, kita berbohong untuk kebaikan. Kau tentu tidak mau bukan, jika terjadi masalah lagi pada jantungmu."

Mendengus wanita itu dan menyetujui rencana Caroline. "Baiklah, aku setuju."

"Memang sudah seharusnya."

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang