028

776 48 22
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

▶️ Play Mulmed, please!

Favorite girl - Justin B

⚠️

Bab ini terdapat sedikit konten dewasa 🤏🏼

Laju mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang serta tujuan pasti—menyibak jalanan lengang bak anak panah yang dilesatkan. Udara sore yang sangat teduh membuat beberapa penduduk kota Staiq seakan dipeluk ketentraman tak abadi. Embusan angin yang datang tiba-tiba dan juga pergi seketika membuat suhu tubuh mereka tak menentu.

Arnav masih mengemudi sementara Thalassa tetap berada di sampingnya. Sunyi, tak ada suara bahkan helaan napas mereka pun nyaris tak terdengar.

Thalassa menempelkan kepalanya ke kaca mobil—membuatnya dengan bebas melihat keadaan di luar. Sekali lagi dia pergi menggunakan transportasi manusia ini. Rasanya begitu menakjubkan hanya dengan duduk saja, tetapi raga bisa berpindah ke mana pun dengan mudah. Thalassa merasa manusia memiliki pemikiran yang sangat luar biasa karena bisa menciptakan alat canggih seperti mobil.

Di dunianya, bahkan seorang raja pun tidak memiliki alat transportasi khusus yang bisa digunakan. Mereka akan tetap mengandalkan ekornya dengan berenang untuk menuju suatu tempat.

Di tengah lamunan Thalassa, seorang pria di sampingnya tetap memfokuskan pandangan lurus ke depan sembari menatap awan hitam yang mengarak di langit—bergulung tertiup angin tak tentu arah. Ia meyakini jika sebentar lagi langit akan menumpahkan air dari balik awan-awan itu.

Sesekali ia menilik Thalassa. Wanita itu tetap bergeming dengan bahunya yang menurun serta punggungnya yang bersandar pada jok mobil—nyaman sekali posisinya.

Laju mobil yang memelan menunjukkan jika sebentar lagi mobil akan berhenti di tujuan. Hal itu membuat Thalassa menegakkan posisinya. "Apa sudah sampai, Tuan?" ujar Thalassa di tengah kesibukan Arnav yang sedang memutar-mutar kemudi untuk menemukan posisi parkir yang sempurna.

Bunyi rintik air yang menabrak body mobil serta suara gemuruh petir, mengalihkan atensi Thalassa dan juga Arnav. Tampaknya tebakan Arnav benar, hujan lebat tiba-tiba mengguyur pantai.

Thalassa memajukan bibir bawahnya, tampaknya keinginannya kali ini tak bisa ia wujudkan. Bagaimana bisa hujan turun di saat ia memiliki rencana mengunjungi rumahnya, meski ia tidak akan berenang, namun dengan melihat saja sudah menjadi pengobat rindu yang cukup mujarab baginya.

"Turunlah, kita bisa berlari ke sana," tunjuk Arnav pada sebuah gazebo—satu-satunya tempat yang terlindung dari amukan hujan sore itu.

Wanita berbola mata hitam itu melemaskan bahu lalu berusaha menampilkan senyumnya—meski hambar. "Aku tidak bisa, Tuan."

Rasa jengkel Arnav kembali timbul. Berani sekali wanita itu berkata tidak pada tuannya. Apa perlu Arnav menyeretnya agar dia tidak seenaknya. Apa dia tidak berpikir, jika selama ini Arnav sudah memperlakuan dia dengan baik—sangat baik. Bahkan, sore ini Arnav dengan suka rela menyetir untuk sampai ke tempat yang ingin dituju olehnya. Maid sialan, kurang ajar, dan sungguh tidak tahu diri. Kepala Arnav sangat penuh dengan berbagai kata umpatan sekarang.

"Apa maksudmu tidak bisa? Apa kau seorang ombrophobia?" tanya Arnav dengan nada penuh kekesalan, tentu saja.

Thalassa jelas tidak mengerti istilah aneh itu. Namun, dari topik yang mereka bahas, wanita itu menyimpulkan jika maksud Arnav mungkin 'apa kau takut hujan' "Aku hanya tidak bisa terlibat dengan air, Tuan, maafkan aku."

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang