001

2.9K 115 0
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Setelah wujudnya tak terlihat di permukaan, makhluk air bernama Thalassa Lacerta itu berenang menjauh. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga agar secepatnya sampai di kerajaan Altayore yang terletak di dasar laut pedalaman Athes.

Tak pernah ia sangka jika tubuhnya membawa sesuatu yang menjadi racun bagi bangsa mermaid lainnya. Thalassa dikelilingi cairan hijau yang mengikutinya sejak dari permukaan.

Di gerbang Altayore terdapat dua penjaga yang seketika merapatkan dua trisulanya masing-masing guna mencegah Thalassa masuk. Mereka tercengang kala melihat cairan hijau aneh yang mengelilingi Thalassa.

"Aku Thalassa. Mengapa kalian tidak mengizinkanku masuk? Aku ingin bertemu Raja Nepale untuk melaporkan sesuatu."

Seorang merman yang memiliki ekor emas kecokelatan berkata, "Tidak bisa. Kau akan membawa pengaruh buruk bagi Altayore."

"Sydar! Apa maksudmu?" ucap Thalassa yang masih belum menyadari semuanya.

"Tubuhmu sudah dikelilingi racun," tutur Sydar dengan suara yang diiringi kemurkaan. "Sekarang cepat pergi sebelum Altayore hancur karenamu!"

"Racun? Racun apa maksudmu?" Thalassa masih diliputi kebingungan.

"Kau pasti baru saja kembali dari permukaan bukan? Aku tahu cairan itu hanya berada di dunia manusia," ujar Sydar yang masih melarang Thalassa memasuki gerbang kerajaan.

Sehingga Thalassa memutuskan untuk mengalah saja. "Ya, aku sadar mermaid sepertiku tidak pantas menjadi bagian dari Altayore. Kau pikir mermaid yang tertakdir tak memiliki kekuatan apa pun sepertiku dibutuhkan di sini? Tidak, Thalassa." Thalassa berbicara pada dirinya diselingi tawa yang tentu tertuju padanya, kemudian pergi menjauhi Altayore.

Sudah berkali-kali ia diperlakukan seperti itu. Jika tidak membawa racun pun, kehadirannya juga tidak akan diterima di sana. Semua bangsa mermaid tak pernah menyukainya, bahkan menganggap dirinya bukan bagian dari bangsa mereka.

Kini, Thalassa kembali ke tempat tadi—tempat kecelakaan kapal di permukaan.

Thalassa hanya mengamati dari kejauhan. Ia tidak memiliki keberanian untuk mendekat karena setahu ia semua manusia itu jahat dan manusia menjadi bahaya terbesar bagi makhluk seperti dirinya.

Mata hitam itu menangkap pemandangan air yang bergerak cepat. Kepala manusia muncul, lalu tenggelam dan begitu sampai seterusnya. Entah apa yang menuntunnya, akhirnya Thalassa berenang mendekati manusia yang sepertinya sangat membutuhkan pertolongan.

Thalassa mendapati tubuh seorang pemuda yang sudah tak sadarkan diri dalam pelukannya. Thalassa tidak tahu harus melakukan apa. Kekuatan tangannya perlahan hilang karena pengaruh bahan kimia hijau tua terkutuk itu.

Untuk berenang saja ia sepertinya sudah tidak kuat, apalagi ditambah beban tubuh manusia yang jelas lebih besar darinya. Namun, hati Thalassa tak kuasa, dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia pun menyeret pemuda itu menepi ke daratan.

Malam begitu pekat sehingga tak seorang pun menyadari kecelakaan kapal tersebut. Hal itu mempermudah Thalassa agar tak terlihat oleh manusia lain.

Suara batuk pemuda itu terdengar, ia mengeluarkan banyak air dari dalam mulutnya. Dalam pandangannya yang masih samar, ia melihat seorang wanita dengan rambut basah sedang menatap penuh iba padanya. Secepat mungkin pemuda bernama Arnav itu mengusap mata untuk memastikan jika ia tidak sedang bermimpi.

Menyadari itu, Thalassa terkejut, takut, dan bergegas kembali ke laut dengan mengandalkan ekor dan kekuatan tangannya.

°°°

Kota Staiq pagi itu digemparkan oleh siaran televisi yang mengabarkan tragedi mengerikan yang baru saja terjadi semalam. Diberitakan bahwasannya terjadi ledakan hebat yang mengakibatkan sebagian kapal pesiar kebanggaan kota Staiq itu hancur.

Beberapa korban sedang dalam proses evakuasi. Kabar itu tentunya sangat menyita perhatian dunia, mengingat kota Staiq adalah kota besar di Tidalonia. Bangkai kapal masih dibiarkan berada di tengah laut sementara para tim SAR hanya fokus mencari korban untuk pagi ini.

Semua dibuat tercengang karena pagi itu, air laut Athes yang biasanya akan berwarna biru berubah abu-abu hampir menyerupai laut Auriga. Hanya saja warna abu dari laut Athes tidak sepekat laut Auriga. Sebagian orang memaknai jika Athes sedang berkabung.

Para tim berusaha setotal mungkin mencari para korban yang mereka harap masih ada yang ditemukan dalam keadaan bernyawa. Karena kejadian itu, membuat warga pesisir berlomba-lomba melihat ke sana sehingga membuat kerumunan.

°°°

Bunyi mesin elektrokardiogram memenuhi ruangan sunyi. Monitor dari alat pendeteksi jantung itu menampilkan garis standar dari aktivitas jantung pasien yang sedang terbaring di brankar. Tak ada satu pun seseorang yang menemani, hanya kesunyian yang memeluknya.

Hingga bunyi decitan pintu kaca itu terdengar, diiringi langkah sepatu ringan menuju ke dalam.

"Bahkan di situasi yang seperti ini wajahmu masih saja menyebalkan." Arnest tersenyum kecut pada Arnav yang masih tak sadarkan diri.

Sembari membuka tirai, Arnest meneliti luka yang terdapat di leher Arnav. Tunggu, luka di leher kembarannya itu terbilang aneh seperti luka cakaran. Hal itu membuat Arnest mendekatkan wajah untuk memastikannya.

Dengan pelan, Arnest menyentuh luka Arnav dan ia benar-benar terkejut kala mengetahui itu sangat persis seperti luka cakar. Gerakan tangan Arnav membuyarkan lamunan Arnest.

"Ka ... kau siapa?!" Tiba-tiba Arnav berteriak kencang.

Tanpa merasa kasihan sedikit pun, Arnest langsung mendaratkan pukulan di lengan Arnav. "Bodoh!"

Arnav yang belum sepenuhnya sadar itu, pun langsung terkejut. "Mengapa jadi kau? Bukankah tadi yang menolongku seorang wanita dan dia ...."

Arnest memotong cepat. "Hentikan omong kosongmu. Kurasa kau tidak benar-benar sakit. Ayo pulang! Merepotkan saja."

Saudara kembar itu selalu saja bersiteru, di mana pun, kapan pun.

"Bagaimana kau bisa selamat? Apa kau juga ditolong seorang wanita aa ... maksudku ...." Arnav menghentikan ucapannya saat kembali mendapat pukulan dari saudara kembarnya itu.

"Apa yang kau bicarakan? Jangan lupa kau berbicara pada atlet renang yang selalu membawa pulang medali," tutur Arnest menyombongkan diri.

Jelas saja Arnav tidak peduli akan hal itu. Ia masih saja tidak habis pikir dengan kejadian yang menimpanya semalam. Bahkan, ia sempat berpikir kalau itu hanyalah halusinasinya saja. Namun, hal yang dianggapnya halusinasinya itu benar—Arnav benar-benar ditolong oleh seorang wanita.

__________________________________________

To be continued

Hai, terima kasih telah membaca bab 1 dari cerita ini.

Jangan lupa beri aku vote+komen kalian.

Thank's 💙🌊

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang