016

974 46 8
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Jangan lupa vote+komennya yaw 🤏🏼

Keadaan Alluna kini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Saat jarum jam menunjukkan pukul dua belas malam, wanita yang sedang depresi itu pergi secara diam-diam dari mansionnya. Dia tidak tahu apakah keluarganya sedang sibuk mencarinya atau tidak.

Seakan tak takut akan konsekuensinya jika dia pergi pada larut malam. Tentunya itu adalah jam jam rawan apalagi untuk wanita seperti Alluna yang terbilang cantik dan memiliki postur tubuh yang memancing para pria hidung belang.

Dengan kaki telanjang dan penampilan yang berantakan Alluna berlari berharap tak seorang pun mengenalinya. Hidungnya memerah dan pipinya basah oleh air mata yang hingga detik ini tidak berhenti keluar dari kedua mata berbentuk almondnya.

Dengan kasar punggung tangan halusnya menepi setiap butiran air matanya yang jatuh. Hingga bunyi klakson terdengar saat Alluna melintas tepat di tengah jalan raya. Wanita itu sepertinya benar-benar kehilangan akal sehatnya.

"Hei! Apa kau mau mati?!" sarkas sang pemilik mobil. Saat mendapati ada seorang wanita yang menyebrang tanpa melihat ke sekeliling.

Alluna bahkan tak mengindahkan seruan itu. Dia terus berlari meski para pengguna jalan memaki habis dirinya.

"Arnav sialan!" Di tengah hentakan langkahnya berlari masih sempat ia mengumpati nama yang telah membuat dirinya menjadi tak karuan itu.

Terhitung cukup jauh jaraknya berlari, Alluna berhenti di sebuah bar yang terletak di tengah kota. Meski penampilannya yang demikian, tetapi wanita itu tidak lupa membawa tas yang berisi tanda pengenal, ponsel dan beberapa kartu yang bisa ia gunakan saat akan membayar.

Begitu sampai ia duduk di service area dan langsung memesan wine untuk meredakan rasa stressnya. Dengan sekali tegukan wanita itu menelan habis segelas wine yang disajikan oleh bartender. Alluna sudah terbiasa dengan minuman keras sehingga tak cukup baginya dengan hanya satu gelas.

"Beri aku lebih banyak, cepat!" Wanita itu memerintah dengan intonasi tinggi.

Dengan segera seorang bartender itu pun menyiapkannya.

Sungguh dengan itu Alluna merasa lebih tenang sedikit. Wanita itu kini menatap ke sekeliling, banyak sekali orang-orang yang mengunjungi tempat itu malam ini. Mungkin sebagian dari mereka ada yang kondisi hatinya sama dengan yang Alluna alami, mencari ketenangan di tengah keramaian.

Tiba-tiba ada seseorang yang mendekat dan duduk tepat di samping Alluna. Pria tinggi itu memegang segelas minuman berwarna bening yang masih penuh, tampaknya pria itu sama sekali belum meminumnya.

"Hai," sapa pria itu sangat ramah.

Dengan senyuman meremehkan Alluna hanya menatap sekilas padanya kemudian memutar bola matanya beralih pandang. Sungguh Alluna sangat tidak ingin diganggu.

"Bukankah kau yang waktu itu?"

Alluna masih tidak menoleh ke arahnya namun dia menyimak dengan seksama ucapan pria itu.

"Iya, benar. Kau wanita yang bertengkar waktu itu. Aku cukup hebat dalam hal mengingat," aku pria itu.

Mendengar itu Alluna berubah pikiran dan memutar kursi yang ia duduki dan menghadap ke arah pria itu. "Kau?"

"Iya, aku Libra. Seseorang yang tak sengaja melihatmu bertengkar dengan pasanganmu."

Alluna mencoba mengingat kembali. Dan, ya, wanita itu mengingat kejadian tempo hari. "Sedang apa kau di sini?" lanjutnya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang