050

385 39 9
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Play, Talking To The Moon - Bruno Mars 🌕

Malam kembali merayap, membawa serta detak waktu yang terasa bagai sembilu. Arnav berdiri di balkon kamarnya—titik yang sama, di jam yang sama saat beberapa malam lalu ia memuntahkan kata-kata yang menjadi penyesalan terdalam sepanjang hidupnya.

Angin malam mengibaskan kemejanya yang terbuka, dingin dan ragu, seolah bahkan udara enggan menyentuhnya terlalu lama.

Arnav menengadah, menatap bulan yang menggantung di langit malam.

Pikirannya terlempar pada memori tentang seorang wanita yang berkata ingin tinggal di sana. Saat itu, Arnav langsung membentaknya, memberi tahu bahwa tak ada kehidupan di sana. Ia juga menjelaskan, jika bulan tidak bisa ditinggali layaknya bumi. Hanya orang bodoh yang berpikiran ada kehidupan di luar bumi, juga yang mempercayai keberadaan makhluk mitos.

Namun, makhluk mitos yang sebelumnya ia anggap hanya hidup dalam pikiran orang bodoh—cerita-cerita yang ia kira omong kosong—justru ia bertemu dengan salah satunya. Makhluk itu hadir secara nyata dalam hidupnya, hingga pria itu—mempercayainya. Lihatlah, siapa yang bodoh sekarang?

Pahitnya kian terasa saat kenyataan datang mencekiknya. Semuanya sungguh tak bisa ia pahami. Ia merengkuhnya, namun begitu buta untuk mengenali denyut yang sama—denyut yang pernah menghangatkannya di tengah dinginnya air laut, yang menariknya dari ambang maut.

Tawa getir lolos dari bibirnya yang mengering— sebuah tawa bentuk penghinaan pada dirinya sendiri—menyadari bahwa dirinya yang keras kepala itu, kini tak lebih baik dari seorang pengecut mana pun.

Bayangan Thalassa yang menangis terus menghantui hampir di setiap kedipan matanya. Dengan rasa bersalah yang membelenggu, mengikat kuat lehernya.

Seharusnya, ia bisa sedikit saja memelankan intonasi suaranya. Seharusnya, ia menahan diri agar amarahnya tidak meledak. Dan seharusnya, ia merentangkan tangan, memeluk, lalu diam untuk mendengarkan setiap patah kata yang akan wanita itu sampaikan. Ia begitu ingin berlari, melawan sang waktu, dan kembali pada kejadian di malam itu. Namun, kini yang tersisa hanyalah bias abu-abu dari terang yang pernah datang.

Arnav mematung dengan jemari yang mencengkeram kuat pagar besi balkon, seolah itu adalah satu-satunya hal yang bisa menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Matanya kian memerah, bukan lagi oleh amarah, melainkan oleh air mata yang mendesak meminta dibebaskan.

Malam itu, di bawah pendar cahaya bulan, ia melakukan hal paling gila; berharap bulan itu akan menyampaikan pesan maafnya pada Thalassa yang entah berada di mana.

Satu tetes air matanya luruh, bergerak cepat menetesi besi balkon. Pria bertindik itu kini tampak begitu rapuh, seolah satu embusan angin saja sanggup menghancurkannya menjadi debu.

Rahang kerasnya bergetar, menahan isakannya. Sementara mulutnya tak henti bergerak, merayu sang bulan agar sudi mengembalikan langkah tatih Thalassa ke hadapannya; membawa serta raga wanita itu kembali ke dalam pelukannya. Meski ia tahu—itu mustahil.

Kini, ia membiarkan sesak itu tinggal. Membiarkan tangisnya jatuh tanpa ditahan, seolah dengan menyiksa dirinya sendiri, ia bisa membayar sedikit saja dari luka yang telah ia beri pada Thalassa.

Dunia mungkin akan menganggapnya gila karena berbicara pada benda langit yang bahkan tak memiliki telinga untuk mendengar setiap racauannya. Tetapi, ia sungguh tak peduli. Ia hanya berharap—di suatu tempat, Thalassanya mendengar rintihan dan segala penyesalan yang ia titipkan.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang