040

627 39 12
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️


"Nasution's Gourmet, salah satu perusahaan makanan besar di kota Staiq, terseret kasus penggelapan saham. Diinformasikan bahwa perusahaan tersebut diduga melakukan manipulasi laporan keuangan untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Kami masih menunggu hasil investigasi lebih lanjut dari pihak berwajib. Jika terbukti bersalah, Nasution's Gourmet, bisa saja mendapat sanksi yang begitu berat.

Kami akan terus memantau perkembangan kasus ini dan memberikan informasi terbaru kepada Anda."

Cuplikan news di televisi berputar, suara jangkar berita memenuhi ruang rawat yang dingin. Alluna, dengan tatapan kosong, menekan tombol merah pada remote control, membungkam suara itu.

"Nona." Suara seorang pelayan wanita memecah keheningan. Layla berdiri ragu di ambang pintu, nampan perak di tangannya berisi semangkuk sup hangat dengan asap mengepul.

Alluna menoleh. Matanya tajam dengan tatapan menusuk pada Layla. "Layla," ucapnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Mengapa kau tak memberitahuku?"

Layla menunduk, pandangannya terpaku pada lantai keramik. Penyesalan merayap di wajahnya. Maid itu sudah menduga bahwa momen ini akan datang. Saat ia masuk tadi, Alluna sudah berlinang air mata di depan televisi yang menyala.

"Maaf, Nona. Aku hanya menuruti perintah Nyonya. Agar ... agar Anda tidak khawatir."

"Pantas saja," desis Alluna, pandangannya kembali kosong. "Saat aku tersadar, mereka tidak ada di sini."

Alluna menghapus air matanya dengan gerakan kasar. Kepalanya berdengung, hatinya seperti diremas. Hampir sebulan ia terperangkap dalam kegelapan koma, dan saat matanya terbuka, realita pahit justru menghantamnya. Orang tuanya terlibat kasus memalukan yang mengancam kehancuran reputasi keluarganya.

"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi!" seru Alluna, suaranya meninggi kali ini.

Dengan gerakan brutal, Alluna menarik paksa selang infus dari punggung tangannya. Darah segar segera keluar membasahi perban.

"Nona!" Layla menjerit panik. Nampan supnya menghantam lantai membuat mangkuk pecah dan isinya tumpah. Ia berlari mendekat dan memeluk Alluna dengan erat, berusaha menenangkan tubuh Alluna yang bergetar hebat.

Alluna memberontak dalam dekapan Layla. Ia berteriak, luapan rasa sakit dan frustrasi keluar di satu waktu.

Layla yang panik segera menekan tombol darurat di dinding. "Nona, tenanglah! Kumohon, jangan sakiti dirimu!"

"Tidak, Layla! Aku ingin pulang! Aku harus menemui mereka!" Alluna terus menjerit histeris.

Beberapa perawat—dua orang pria berbadan tegap dan satu wanita—segera masuk ke ruangan. Melihat situasi kacau itu, mereka sigap bertindak, membantu Layla memegangi Alluna yang meronta.

"Lepaskan! Jangan sentuh aku! Aku hanya ingin pulang!" Alluna melawan sekuat tenaga, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan tiga petugas medis itu. Ia kalah.

Perawat wanita itu mendekat, jarum suntik berisi cairan bening sudah siap di tangannya.

"Jangan! Jangan!" Alluna menolak dengan putus asa saat perawat itu bersiap menyuntikkan obat penenang. Wajahnya memucat, ketakutan menguar di matanya. "Aku akan diam! Aku janji aku akan diam! Jangan buat aku pingsan lagi, aku tidak mau, kumohon!"

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang