Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Pagi itu, Thalassa memasuki dapur dengan langkah ringan, bergabung bersama para maid dapur yang sedang memasak. Entah, mengapa akhir-akhir ini, wanita itu lebih suka memasuki dapur dari pada harus menghabiskan waktunya dengan diam saja menunggu perintah sang tuan.
Ia menghirup kepulan asap yang berasal dari grill pan, di atasnya terdapat beberapa daging sapi segar yang sudah diolesi bumbu, lalu dibiarkan melewati proses pematangan. Thalassa dibuat melayang oleh aroma-aroma wangi yang bertempur di udara. Aroma itu berasal dari beberapa cooktop yang menyala serempak, melakukan tugasnya memasak berbagai menu lezat.
Sejurus setelahnya, Caroline juga memasuki dapur. Aroma wangi masakan langsung menabrak indera penciumannya. Ia terperangah melihat para maid yang memasak banyak sekali untuk pagi ini.
"Caroline," sapa Thalassa yang kemudian berlari menghampiri. "Semalam kau dari mana?" lanjutnya. Ia terlalu penasaran untuk tidak menanyakan hal itu.
"Kau pasti terkejut, saat kau bangun dan tak menemukanku," papar Caroline.
"Ya, aku mencarimu ke mana-mana, tetapi tetap saja aku tak menemukanmu. Aku melihat mobil Thomas semalam, lalu kau juga turun dari sana. Dari mana kalian pada jam tiga pagi?" tanya Thalassa.
"Oh, ya. Rupanya kau melihatnya. Aku membelikanmu kepiting segar. Lihat! di sana." Caroline menunjuk sebuah box kecil yang berada di atas meja. Lalu, mengajak Thalassa melihatnya.
Caroline membuka box itu, benar saja di sana ada tiga kepiting yang besarnya hampir setara dengan ukuran bantal—besar sekali. Thalassa menatap Caroline dengan mata berkaca-kaca. Lagi pula, sebenarnya Thalassa tidak begitu ingin memakan kepiting. Semalam ia hanya bercerita saja.
"Caroline, maafkan aku. Apa aku sungguh merepotkan? Kau seharusnya memanfaatkan waktumu dengan beristirahat, bukan menukarnya dengan membelikanku ini." Bukan Thalassa tidak tahu berterima kasih, bukan. Hanya saja ia sungguh tidak mau membuat orang lain susah karenanya.
Caroline menggeleng pelan. "Tidak, tidak. Aku melakukan ini dengan senang hati. Sengaja aku pergi dini hari untuk menemui langsung para nelayan, jadi ini benar-benar fresh baru saja diangkat dari laut dalam. Lihatlah, warna merahnya begitu menyala."
Namun, Thalassa tetap saja merasa sungkan.
"Baiklah, karena tuan-tuan kita sedang tertidur lelap, bagaimana jika kita memasaknya sekarang?" ajak Caroline dan tentu saja Thalassa mengiyakan.
Mereka berdua akhirnya mengolah kepiting merah itu. Saat Thalassa memegangnya, matanya berkilat sungguh tak percaya. Bagaimana manusia bisa menangkap kepiting itu dengan mudah, sementara dirinya yang tinggal di dasar laut saja kesusahan mengejar kepiting merah itu. Bukankah media yang digunakan para manusia hanyalah sebuah jaring, sedikit tidak masuk akal bagi Thalassa.
Caroline menepuk halus pundak Thalassa. Membuat sang pemilik terkesiap dari lamunannya.
"Tuanmu," beritahu Caroline seraya menunjuk arah pintu.
Thalassa pun melirik ke sana dan langsung melihat Arnav yang berdiri di ambang pintu. Segera Thalassa berniat menghampiri, Namun Arnav lebih dulu melangkah mendekatinya dan itu membuat Thalassa diam di tempat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
