DARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞
Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat.
Ke...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
📍Athes Beach, 04:00 AM
Deru ombak terdengar—hingar—selaras dengan isi kepala wanita yang meniti garis pantai. Dress putihnya menjuntai menutup hingga kedua ujung kakinya. Beberapa jam ia habiskan hanya untuk menumpahkan seluruh gundahnya. Sesekali ia mengusap air matanya, namun di lain waktu ia membiarkan linangan itu membanjiri seluruh wajahnya.
Langkahnya terhenti, namun air matanya kian deras mengalir. Thalassa menatap sapuan ombak yang datang menyapa. Ombak itu terus menghampiri ujung kakinya seolah membujuknya agar segera menenggalamkan diri pada bentangan air yang menghampar di depannya.
Tak ada lagi asa yang tersisa, tak ada lagi tujuannya berlari. Siapa yang akan menerimanya kembali, jika manusia yang dijadikan gantungannya menatapnya penuh rasa benci?
Thalassa sudah berusaha menjelaskan, dengan harapan Arnav akan menerimanya. Namun, pria itu sama sekali tak memberi Thalassa kesempatan berbicara lebih banyak. Hingga akhirnya wanita itu memilih pilihan untuk tenggelam dalam diam dan melangkahkan kakinya pergi.
Tenang saja, tanpa Arnav berkata bahwa 'dirinya menjijikkan' pun, wanita itu cukup tahu diri. Bukankah sejak dulu dirinya selalu dipandang seperti itu? Lantas mengapa baru sekarang Thalassa merasa tersayat, mendengar kata itu dari mulut Arnav? Apa karena Arnav adalah orang yang memberinya kesempatan merasakan hidup?
Namun, sejak Arnav memintanya pergi, ia sadar bahwa keterlibatannya dengan pria itu sudah berakhir di detik itu juga. Jika tak ada lagi sebuah harap di darat, ia tahu masih ada sisa harapan di perairan ini, meski ia sendiri juga ragu akan itu.
Fajar di langit mulai mengintip, angin darat dan laut saling bertaut. Pagi hampir tiba, namun jiwa Thalassa masih terjebak di waktu semalam. Mata merah dan sentakan kasar Arnav masih terus berputar jelas di kepalanya.
Thalassa sadar diri, hal ini pasti akan terjadi. Bak bom waktu yang menunggu meledak. Serapat apa ia menutupi, cepat atau lambat Arnav akan mengetahui. Ia sudah sangat tahu, tetapi betapa bodohnya, ia tidak pernah bersiap menghadapi kekecewaan Arnav, tak pernah mencari tahu cara agar Arnav tetap mendekapnya meski telah mengetahui semua rahasianya.
Jika posisi mereka ditukar, Thalassa paham mengapa Arnav bersikap demikian. Siapa yang bisa menerima jika dirinya dibohongi? Bahkan, Thalassa juga akan marah. Marah sejadi-jadinya, seperti saat Arnav melemparkan botol padanya semalam.
Air mata Thalassa kembali mengalir, entah sudah berapa kali tetesan bening itu jatuh hingga pagi ini. Ia menatap ke atas, pemandangan langit yang harusnya indah, tetapi kali ini tidak. Apa mungkin karena mata Thalassa dipenuhi genangan air mata sehingga tak bisa melihat keindahan langit menuju pagi?
Ia menatap air laut yang terus menghampirinya. Melihat pergerakan ombak yang menepi lalu buihnya melebur, terserap pasir pantai. Thalassa tak sengaja melihat siput laut yang terguling karena sapuan ombak, sekeras apa ia berusaha, ombak datang kembali menerjangnya.