043

528 39 31
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️

Play now!

🎵 Skyfall - Adele

Di sudut tanpa penerangan, sebuah sunyi merangkak diam-diam. Satu-satunya sumber cahaya hanya nyala lilin yang berpendar, mempertegas bayangan besar seseorang terpantul di dinding. Melalui bayangan itu, tampak sosok duduk membisu, tanpa pergerakan, hanya deru napasnya yang samar terdengar.

Derap langkah cepat menggema di indera pendengarannya, membuat ia sedikit menegakkan punggung. Cahaya lilin bergetar akibat pergerakan darinya, menyebabkan bayangannya di dinding seolah hidup dan bergerak.

Suara langkah itu semakin mendekat, hingga ia bisa merasakan kehadiran seseorang tepat di belakangnya. Senyum tipis tersungging di bibirnya, bersiap menyambut kabar yang akan ia terima.

"Bagaimana? Kau sudah melihatnya, bukan?" ucapnya, suaranya terdengar antusias.

Sementara itu, seseorang di belakangnya menunjukkan wajah ketus karena kesal. "Apa? Melihat apa? Melihat aku mempermalukan diri sendiri maksudmu? Dia tidak berubah, kakinya sama sekali tidak menjadi ekor seperti katamu. Apa kau sengaja mempermainkanku? Sialan!"

Libra tertegun, alisnya bertaut. Harapan akan kabar baik justru berbanding terbalik. "Bagaimana bisa? Mungkin kau salah, kau harus benar-benar menyiram bagian kakinya, bukan bagian tubuh yang lain."

"Sudah aku lakukan, Bodoh! Kedua kakinya sudah basah oleh air yang kusiramkan. Tetapi, dia masih di depanku, berdiri dengan kaki sialannya."

Jemari Libra yang sedang memainkan sumbu lilin terhenti seketika. Ia memiringkan kepala, menatap Alluna dengan mata yang menyipit tajam di bawah keremangan cahaya. "Mustahil," bisiknya lebih kepada diri sendiri. "Seharusnya dia berubah saat kakinya terkena air. Apa kau yakin sudah melakukannya dengan benar?"

Alluna tidak lagi memiliki minat untuk membahas itu. "Sudah cukup, harusnya dari awal aku tak pernah mempercayai semua perkataanmu. Kau hanya membuang waktuku saja. Sekarang kau pergi dari sini, kembali ke tempatmu, terserah ke mana saja!"

Saat ini Libra sedang berada di mansion Alluna. Baru beberapa hari setelah insiden di rumah sakit, Alluna memutuskan untuk membawa Libra ke kediaman milik keluarganya. Ia berpikir jika Libra—dengan kekuatan ajaib yang dimilikinya—bisa membawa sedikit keberuntungan bagi Alluna.

Sedang Libra saat itu menggeram marah. "Tidak, kau tak bisa mengusirku begitu saja! Jika kau tak bisa melakukannya, biar aku sendiri yang akan menunjukkannya padamu. Akan kuperlihatkan bagaimana air bisa mengubah wujudnya." Seringai jahat Libra tampak, mengakhiri ucapannya.

"Aku tak mau mempermalukan diriku lagi, Libra! Aku tak mau Arnav menamparku lagi. Arghh! Ini semua akibat bualanmu!" Alluna memegangi pipinya yang masih terasa panas. Ia teringat jelas bagaimana Arnav menamparnya begitu keras, bagaimana tangan besar pria itu melayang cepat ke arah pipinya. Raut marah Arnav masih terekam jelas di pikirannya. Bagaimana bisa Arnav menamparnya hanya karena maid itu?

"Ia terlalu lancang masuk ke kehidupan Arnav dan mengacaukan semuanya. Dan bodohnya Arnav tergoda, sialan! Wanita itu harus diberi pelajaran. Sampai kapan pun dia tak akan bisa menggantikan posisiku, tidak akan!" Air mata Alluna berhasil lolos dari matanya yang memerah, menahan amarah. Segera ia berkedip cepat, berharap matanya menelan kembali air mata sialannya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang