Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah tirai kamar Yohanna. Wanita itu sedang duduk tegak di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan senyum yang sulit disembunyikan.
Dengan gerakan terlatih, jemarinya memoles wajahnya perlahan. Ia merapikan alis, mengusap tipis perona pipi, lalu mendekatkan wajah ke cermin untuk memastikan garis di kedua matanya sudah simetris. Ia tidak ingin ada yang kurang; hari ini ia harus terlihat sempurna.
Arnest telah berjanji akan membawanya ke toko perhiasan.
Janji sederhana, tetapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar sejak semalam. Yohanna bahkan terbangun lebih pagi dari biasanya hanya untuk memberi waktu lebih lama pada dirinya sendiri untuk bersiap.
Ia memilih dress terbaik yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya, lalu menyemprotkan parfum beraroma mawar—aroma yang selalu membuatnya merasa lebih percaya diri. Saat akhirnya ia berdiri dan menatap pantulan dirinya sekali lagi, senyum puas merekah di bibirnya yang merah.
Belum sempat ia melangkah keluar, suara seorang maid terdengar memberi tahu bahwa Arnest sudah menunggu.
Tanpa sadar, Yohanna berlari kecil menyusuri koridor. Langkahnya ringan, hampir seperti seseorang yang baru pertama kali jatuh cinta. Jika saja tidak ada siapa pun di mansionnya, mungkin ia benar-benar akan menghambur memeluk pria yang berdiri menunggunya di ruang tamu.
Arnest mengenakan setelan serba hitam hari itu—rapi, tenang, dan memancarkan pesona yang membuat Yohanna sulit mengalihkan pandangannya. Entah mengapa, melihatnya pagi itu menghadirkan debaran rindu tak menentu, padahal baru saja kemarin mereka bertemu.
Tak berselang lama, mobil mereka berhenti di depan L’Eclat de Luxe—toko perhiasan ternama di Kota Staiq.
Saat keduanya melangkah masuk, suara sepatu mereka menggema pelan di lantai. Kepala Yohanna terangkat menatap langit-langit tinggi berhiaskan lampu gantung kristal yang memantulkan cahaya ke segala arah. Bias cahaya itu memantul pada permata-permata di dalam etalase kaca, membuatnya berkilau hidup, seolah sengaja menjerat para pengunjung untuk mendekat.
Yohanna sempat menahan napas. Bukan hanya karena keindahan tempat itu, tetapi juga karena perasaan bahwa hari ini mungkin akan menjadi salah satu hari yang akan selalu ia kenang. Wanita itu mengeratkan pelukannya di lengan Arnest, membiarkan kepalanya bersandar di bahu pria itu.
Arnest membimbing Yohanna menuju sudut ruangan. Seorang pelayan wanita dengan seragam hitam elegan segera menghampiri mereka dengan senyum profesional. Namun, begitu matanya tertuju pada wajah Arnest, senyum itu berubah menjadi lebih lebar.
"Selamat datang kembali, Tuan," sapa wanita itu dengan nada hangat yang terdengar akrab. "Cepat sekali Anda kembali. Apa anting model teardrop yang Anda beli kemarin kurang cocok? Padahal itu adalah bestseller kami bulan ini."
Udara di antara mereka berubah kaku. Yohanna yang semula sedang menunduk, mengagumi deretan perhiasan di balik etalase, perlahan menoleh. Tatapan tajamnya langsung jatuh pada Arnest.
"Kemarin? Kau kemarin ke sini, Arnest?"
Wajah Arnest seketika memucat. Ia menggeleng cepat—terlalu cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
