Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
🎧 Half a Heart - One Direction ❤🩹
——
Di pedalaman laut yang memiliki arus dingin dan hening—satu entitas melintas tanpa suara—menembus arus tanpa riak, menuju kedalaman di mana cahaya matahari mati. Gelap. Senyap. Hanya detak jantungnya yang menggema, ritme liar yang bahkan asing di telinganya.
Thalassa terus meluncur, memutus sisa ikatan terakhir dengan kehidupan lamanya, menenggelamkan diri di bagian laut paling dasar. Dasar laut diselimuti lumpur pekat yang menelan bangkai-bangkai makhluk laut. Ikan-ikan kecil dari zona atas yang tersesat hancur oleh tekanan air yang begitu tinggi, membuat tubuh mereka remuk, menjadi serpihan kecil, kemudian mengambang tanpa nyawa.
Thalassa memperlambat gerakan ekornya. Semakin dalam, suhu laut akan semakin menurun dan itu jelas mempengaruhi fisiknya. Dingin langsung menguasainya. Suhu ekstrem dasar laut sangat tidak cocok bagi biota laut epipelagis; biota laut yang hidup di zona laut paling atas dengan sinar matahari yang cukup.
Bahkan mematikan bagi manusia. Paru-paru manusia yang berisi udara, tidak dirancang untuk menahan tekanan sebesar itu. Tekanan air tinggi akan langsung menghancurkan paru-paru, menyebabkan pendarahan internal, meledakkan setiap inti daging, memaksa kerja jantung berhenti, lalu berakhir dengan kematian yang pasti.
Namun, Thalassa adalah makhluk berdarah dingin dan adaptif. Ia bisa tinggal di mana saja, bahkan di dasar laut sekali pun. Insang tambahan di sisi lehernya membantunya menyerap oksigen lebih efisien. Tubuhnya pun akan dengan cepat menyesuaikan dengan suhu sekitar.
Di dasar laut yang gelap, tempat di mana hukum alam permukaan runtuh, dragonfish dengan gigi tajam bagai jarum melesat cepat bak hantu lapar. Tak jauh dari sana, black seadevil—ikan bertubuh hitam dengan bentuk menyeramkan—mengedipkan umpan bioluminesensi mematikan, satu-satunya sumber cahaya di laut dalam.
Ekor hitam Thalassa bergerak semakin mendekat pada lumpur, meski tanpa penerangan bioluminesensi dari ikan-ikan dasar, ia tetap bisa melihat dengan matanya sendiri di kegelapan paling gelap sekali pun. Di hamparan lumpur, krustasea transparan dan kutu laut raksasa berwarna pucat merayap perlahan. Mereka adalah pemulung dalam siklus hidup-mati biota laut dalam.
Masih banyak biota aneh laut dalam lainnya, namun, Thalassa hanya bertemu dengan beberapa dari mereka. Fokus Thalassa tertuju lurus ke depan, ke arah penurunan curam. Sebuah celah gelap gulita, seolah seluruh kegelapan dunia berkumpul di sana.
Thalassa berenang mendekat, menuju ke kegelapan itu. Sebuah rasa penasaran merayapi benaknya, seakan kegelapan itu berteriak memanggilnya. Ia bergerak, ingin tahu tempat apa itu, dan apa yang hidup di dalam sana.
Namun, sebelum kegelapan itu benar-benar menelannya, sebuah tangan mencengkeram lengannya—menahan pergerakan Thalassa. Ia ditarik, menjauh dari celah itu. Sosok itu bergerak dengan kecepatan luar biasa, ekornya bergerak membelah air di laut dalam tanpa suara.
Terlalu terkejut, Thalassa tak memiliki kesempatan untuk melawan.
Mereka berhenti di sebuah ceruk batu yang lebih dangkal, namun masih diselimuti kegelapan. Sosok itu melepaskan cengkeramannya dari lengan Thalassa, membuat Thalassa tersentak karena ketidak siapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
