Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
Sebelah tangan Arnav terangkat mengusap rambut panjang Thalassa yang terurai bebas. Tampak senyuman kecil terbit di wajah Arnav. Rasanya sangat nyaman, hangat, dan tunggu, “sepertinya aku mengenali pelukan ini,” kata Arnav seakan dejavu.
"Apa yang Anda maksudkan, Tuan?" tanya Thalassa dengan rasa ingin tahunya.
Arnav membuka matanya dan menatap Thalassa dengan tatapan mendalam. Dalam dada pria itu tercipta gemuruh besar tetapi hanya dia seorang diri yang dapat mendengarnya.
"Apa Anda baik-baik saja?" Sekali lagi Thalassa memastikan keadaan majikannya.
Pria itu menggeleng pelan diikuti kerlingan mata seakan membantah semua isi kepalanya. "Aku baik-baik saja."
"Sepertinya Anda harus beristirahat," saran Thalassa yang mencoba melepaskan tangan Arnav dari belakang pinggangnya dengan gerakan lembut.
"Mungkin kau benar. Aku harus beristirahat," kata Arnav sambil mengangguk. "Tetapi, aku tidak mau beristirahat sendirian." Arnav pun kembali mengeratkan tangan kanannya memeluk Thalassa.
Perlakuan Arnav membuat Thalassa terkejut sampai wanita itu menutup cepat matanya.
Melihat ekspresi Thalassa membuat Arnav berdecih. "Apa kau takut padaku?" selidik Arnav.
Thalassa menjawab terbata-bata. "Ti ... tidak, Tuan. Maaf, aku hanya sedikit terkejut."
"Berapa usiamu?" Arnav yang sejak dulu penasaran akan usia maid pribadinya itu, akhirnya di detik itu juga ia menanyakannya.
"Entahlah, seingatku saat purnama biru terakhir aku berusia delapan belas."
Arnav menautkan kedua alis tebalnya mencoba memahami jawaban ambigu Thalassa. "Usiamu delapan belas tahun, begitu?"
Thalassa kebingungan akan menjawab apa. Dia tidak mengerti cara menjelaskannya karena di dunianya bulan purnama biru menjadi patokan waktu. Bulan purnama biru adalah bulan purnama yang terjadi setiap satu tahun sekali. Suatu malam yang sangat penting bagi para bangsa mermaid. Saat purnama biru berlangsung, bangsa mermaid berlomba-lomba mengasah kekuatan mereka, jika yang beruntung akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Mungkin satu-satunya mermaid yang tidak antusias saat purnama biru datang adalah Thalassa karena dia tak memiliki kekuatan untuk diasah. Thalassa lahir bertepatan dengan malam purnama biru, itu juga ia ketahui dari mermaid tua yang memberitahunya.
"Lalu mengapa kau bersedia bekerja denganku? Padahal usiamu masih sangat muda. Apalagi menjadi pelayan. Jika aku jadi kau aku tak akan pernah memilihnya," lanjut Arnav.
Thalassa mengambil napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Arnav. "Menjadi pelayan juga bukan keinginanku, Tuan. Hanya saja aku tak memiliki pilihan lain. Lagi pula aku tak memiliki ahli dalam bidang apa pun."
Tunggu! Benarkah Thalassa yang mengatakannya? Sangat manusiawi sekali ungkapan makhluk setengah ikan itu.
Perlu diketahui jika dua hari yang lalu, Caroline mengajak Thalassa menonton sebuah film di sela waktu senggang mereka. Kalimat yang tadi Thalassa lontarkan itu berasal dari adegan film yang kemarin ditontonnya, kebetulan saja ia menemukan kalimat yang sama.
"Tapi, jauh dalam lubuk hatimu apa kau ingin memiliki pekerjaan yang layak?" Pagi ini tuan muda itu terdengar terlalu banyak bertanya tidak seperti biasanya.
Thalassa tersenyum dan menggeleng. " Siapa yang berkata menjadi maid bukan pekerjaan yang layak? Aku menyukai pekerjaanku. Aku tetap akan menjadi maidmu, Tuan."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
