Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
🎵 And I don't care it's obvious, i just can't get enough of you
No Control - One Direction ❤🩹
🚫 Eksplisit content, please, be wise, guys!
•
Geliatan samar perlahan muncul, menghidupkan kembali tubuh yang terbaring di ranjang. Seruan halus membelai telinganya, berulang kali, hingga kesadarannya kembali. Matanya terbuka pelan, dunianya yang semula gelap kini mulai gempar terserang cahaya dunia.
"Tuan, saatnya sarapan," kata Thalassa, yang pagi itu siap siaga berdiri di samping ranjang sang tuan.
Arnav—manusia yang biasanya mengutuk pencipta pagi, kini tak terdengar satu umpatan pun keluar dari mulutnya. Mata yang biasanya berat untuk dibuka itu, justru melebar sempurna. Pagi itu, ia tak lagi mencaci sang waktu, tak lagi menyumpahi sang pagi. Lihatlah, betapa besar pengaruh wanita itu bagi suasana hatinya.
Senyum simpul melengkung di bibirnya, mata sayu yang tertutup helaian rambut itu menatap lekat sosok yang berdiri, tiada jemu. Segera ia mengulurkan tangan—menjamah pergelangan tangan wanita itu, agar mendekat ke arahnya.
Tiba-tiba tubuh Thalassa berakhir dalam rengkuhan hangat Arnav. Ekpresi terkejut yang spontan memenuhi wajah wanita itu.
"Aromamu selalu membuatku hilang kendali." Hidung Arnav menyentuh kulit bawah telinga Thalassa—menghirup aroma yang ia suka, sebanyak-banyaknya.
"Tu ... Tuan, tuan besar sudah menunggu Anda." Suara Thalassa gemetar—berusaha mengatur deru napasnya saat Arnav bermain di area sensitifnya.
"Biarlah, aku tak peduli."
Thalassa terjebak dalam pusaran kehangatan yang menangkap tubuhnya. Napasnya tercekat, jantungnya berdetak hebat, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Arnav terus menelusuri leher Thalassa dengan ujung hidungnya, namun sesekali ia juga memberikan kecupan ringan di sana.
"Tuan ...," bisiknya lemah, hampir tertahan.
Tapi Arnav tidak peduli, dia terus memeluk Thalassa begitu erat, membuat Thalassa sulit bergerak. Tangannya perlahan naik, mengusap kepala Thalassa yang berada di dadanya.
Dalam keheningan, Thalassa bisa merasakan jantung Arnav yang detakannya seirama dengan jantungnya—terlalu cepat dan keras.
Arnav terus membisikkan kata-kata manis di telinga wanita itu. "Biarkan aku terus menciummu. Meski kau tahu, aku tak akan pernah cukup untuk itu."
"Tuan, emm." Lenguhan pendek itu, membuat sesuatu dalam diri Arnav serasa tersulut—sesuatu yang bisa meledak kapan saja.
Dengan satu gerakan, Arnav membalikkan posisi, menjadikan tubuh Thalassa berada di bawahnya.
Tersentak tubuh Thalassa, menerima perlakuan Arnav yang tiba-tiba. Dadanya membusung akibat dari napasnya yang tak teratur. Tatapan Arnav yang semula menatap wajah wanita itu, kini mulai berpindah, menurun ke bagian dada—salah satu bagian tubuh Thalassa yang membuat gairah Arnav naik satu tingkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasiDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
