025

779 52 7
                                        

Selamat membaca

.
.
.
.

⬇️⬇️⬇️


"Suara apa itu?" Thalassa mempercepat langkahnya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. Ia mematung begitu sampai di depan kolam. Sebelah tangannya terangkat menutupi mulutnya yang kini membulat.

"Thalassa!" panggil seseorang.

Thalassa terperanjat kala netranya menangkap penglihatan sang majikan berenang pada dini hari. Tanpa ragu, dia pun mendekat. "Ini masih dini hari, Tuan? Apa Anda tidak kedinginan?"

"Tidak," jawabnya singkat seraya menaiki tangga untuk mengakhiri kegiatan berenangnya.

"Memang Anda bisa berenang, Tuan?" tanya Thalassa memastikan.

"Tentu saja bisa," akunya dengan pasti.

"Jika dia bisa berenang, mungkin saat itu dia tak akan tenggelam. Dia pasti berbohong." Thalassa bergumam dalam hatinya.

"Mengapa kau menatapku seperti itu? Kau meragukanku?" tuding Arnav tak terima melihat ekspresi Thalassa yang seakan meremehkan dirinya.

Thalassa melebarkan senyumnya dan menggeleng pelan. "Tidak, Tuan. Sama sekali aku tidak meragukan kemampuan Anda."

Malam itu Arnav merasa gelisah dan tidak dapat menikmati tidurnya dengan baik. Rasa bosan menghantuinya, ia sangat ingin ke kelab, namun Amov melarangnya pergi. Di tengah pikiran suntuknya, tiba-tiba tercetus sebuah ide gila dalam otaknya. Tuan muda itu mencoba menyentuh kolam yang sebelumnya tidak pernah. Ia ingin berenang di jam dua malam, setidaknya dengan begitu tak akan ada orang lain yang melihatnya.

Keadaan mansion akan sepi di jam sekian, karena kebanyakan orang sudah terlelap dalam kehangatan kamar tidur masing-masing. Arnav ingin menguji kemampuannya berenang, meski sebenarnya ia tidak bisa—sama sekali. Tapi, kali ini ia serius berlatih, agar bisa seperti Arnest. Sekalipun tak bisa sehebat saudaranya, setidaknya sampai di taraf 'bisa' saja itu sudah cukup baginya.

Ia mengerahkan seluruh tenaganya, merentangkan tangan, berikut kakinya di belakang. Tetapi, berkali-kali pula ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya yang tidak bisa mengapung dengan sempurna membuatnya frustasi. Setelah beberapa kali percobaan, Arnav pun merasa lelah dan kesal terhadap dirinya sendiri.

Di tengah keputus asaannya, tiba-tiba ia melihat siluet seseorang menghampirinya. Ternyata itu adalah Thalassa. Ia pun memanggilnya dan segera naik untuk menyudahi kegiatan berenangnya.

"Maaf, aku mengganggu Anda. Kalau begitu silahkan lanjutkan, Tuan." Thalassa pun duduk di pool lounger yang terletak tak jauh dari kolam.

Arnav menatap Thalassa yang berjalan menjauhinya. Tetesan air yang berasal dari tubuh Arnav terjatuh ke lantai. Pemuda yang hanya mengenakan boxer sepaha itu kini juga mengikuti Thalassa di belakang.

"Mengapa Anda mengikutiku?" tanya Thalassa yang kini sudah duduk di kursi panjang itu.

Arnav menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Em, aku tak akan berenang lagi."

"Mengapa? Padahal aku sangat ingin melihat tuanku berenang. Anda pasti terlihat sangat menawan melakukan gerakan-gerakan indah di air."

Mendengar itu, Arnav meneguk saliva dengan kasar. Ia sungguh malu mengakui jika dirinya sama sekali tidak bisa berenang. "Kau bisa melihatku berenang di lain waktu. Tidak untuk sekarang."

Thalassa menampilkan wajah kecewanya. "Sepertinya keraguanku benar."

"Apa maksudmu?" ucap Arnav yang masih berdiri dengan celana basahnya.

The Blue ShineTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang