Selamat membaca
.
.
.
.
⬇️⬇️⬇️
🎵 I Feel Like I'm Drowning - Two Feet
_____
Permukaan laut yang semula tenang pecah oleh riak samar. Di bawah kejernihan air, raga Thalassa terendam sepenuhnya. Pilar cahaya matahari jatuh di kulitnya, menghadirkan kilau di antara buih-buih kecil yang melayang. Rambut panjangnya terurai, menari liar dalam dekapan arus yang tenang.
Thalassa memejamkan mata sejenak, membiarkan air laut menyentuh setiap inci kulitnya. Perubahan pun terjadi; kedua kakinya merapat, tulang-tulangnya berderak, diikuti lapisan kulitnya yang menyatu. Dalam sekejap, kaki manusianya lenyap, berganti dengan ekor panjang yang dipenuhi sisik hitam.
Ia mengibaskan ekornya, berenang membelah kedalaman. Sekelompok ikan kecil memencar seiring kedatangannya, seolah takut akan dijadikan mangsa olehnya. Tetapi, Thalassa tidak datang untuk itu. Ia hanya ingin berenang sebentar dan kembali pada Arnav yang telah menunggunya.
Gerakan ekor Thalassa membawanya semakin dalam. Air di sekitarnya berubah lebih gelap, lebih senyap. Sampai tiba-tiba keningnya berkerut. Di kejauhan, sesuatu bersinar terlalu terang. Rasa ingin tahu mendorongnya mendekat.
"Apa itu?" gumamnya pelan.
Matanya memicing penuh penasaran. Di dasar pasir, sesuatu tertancap di antara bebatuan kecil—sebuah batu bening menyerupai kristal—memancarkan cahaya yang berkedip pelan. Seolah ada suara yang memerintah di kepalanya, akhirnya Thalassa mengulurkan tangan dan menarik batu itu dengan satu sentakan.
Batu itu terlepas. Seketika, cahaya yang tadinya menyatu pecah menjadi ribuan pancaran kecil yang menyambar ke segala arah sebelum memudar dalam hitungan detik. Tiba-tiba hening. Seolah arus berhenti mengalir, air di sekelilingnya mendadak membeku. Laut kehilangan suaranya.
Sesuatu terjadi—sebuah getaran dahsyat menghantam tubuhnya, begitu kuat hingga tulang-tulangnya terasa berderak hebat. Getaran itu diikuti oleh suara gemuruh panjang yang menderu, suara besar yang diikuti gema yang bergetar.
"Apa yang terjadi?" Kepanikan mencekik kesadarannya. Pandangan Thalassa memburam saat gelombang pasir naik, membutakan matanya. Air di sekelilingnya bergerak kencang, menciptakan pusaran yang menarik paksa tubuhnya.
Ia mencoba mengibaskan ekornya untuk mencari pegangan, namun arus itu terlalu kuat. Ia terhempas, napasnya tercekat, dan dadanya terasa sesak.
Thalassa memejamkan matanya, merintih dalam kebisuan yang tak bisa ia suarakan. Ia merasa dunia seperti akan berakhir di detik itu juga. Sampai akhirnya, ia merasakan sebuah sentuhan mencengkeram bahunya.
"Thalassa!"
Suara itu terdengar tenang, terlalu tenang di tengah badai yang sedang Thalassa rasakan. Thalassa mengerjap kuat, mencoba mengusir kekeruhan pasir yang menusuk matanya. Saat ia membuka mata, sosok bertubuh kekar dengan bekas sayatan panjang di perutnya berada di hadapannya.
"Victor?" bisik Thalassa parau, suaranya nyaris tak terdengar.
"Kau ke mana saja? Aku mencarimu hampir di seluruh lautan," ungkap Victor dengan raut cemas, berbanding terbalik dengan situasi kacau yang baru saja Thalassa rasakan.
Thalassa menggeleng cepat, bukan untuk menjawab, melainkan untuk mengusir suara gemuruh yang masih tertinggal di gendang telinganya. "Apa itu tadi? Kau juga merasakannya, bukan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
The Blue Shine
FantasyDARK FANTASY-ROMANCE-URBAN-MATURE 🔞 Laut Athes dan laut Auriga, dua laut yang berdekatan dengan dua warna berbeda. Suatu malam kecelakaan kapal besar terjadi, membuat dua laut itu dipenuhi kepingan bangkai kapal dan beberapa korban tak selamat. Ke...
